Aksi Corat-coret Seragam Sekolah Pasca Kelulusan

Opini 1

Oleh: Eha Siti Julaeha

 

Setelah dinyatakan lulus, banyak siswa tingkat SMP dan SMA sederajat melakukan aksi corat-coret, aksi ini menurut mereka untuk merayakan pasca pengumuman kelulusan yang dilakukan hanya sekali dalam seumur hidup. Ratusan siswa rayakan kelulusan dengan mencorat-coret seragam menggunakan cat dan spidol, rambutpun tidak luput diberi cat. Tidak hanya para siswa laki-laki saja yang melakukan aksi ini, akan tetapi siswi-siswi perempuanpun tak kalah saing melakukan aksi kurang bermanfaat ini.

 

Corat-coret baju seragam pada saat pasca pengumuman kelulusan tingkat SMP atau SMA sederajat merupakan kebiasaan buruk dari generasi sebelumnya ke generasi selanjutnya, entah kapan dimulainya kebiasaan buruk ini, sehingga melekat menjadi tradisi. Fenomena ini bukan merupakan budaya, akan tetapi kebiasaan buruk yang terus dilakukan pasca kelulusan. Aksi corat-coret di kalangan siswa SMP atau SMA sederajat ini yang dianggap sebagai tradisi yang sudah mendarah daging justru sangat miris dilihat karena mereka menganggapnya sebagai budaya, padahal jika diteliti itu bukanlah suatu budaya, melainkan suatu kebiasaan buruk yang dilakukan secara turun temurun.

 

Sekolah merupakan lembaga pendidikan formal yang mengajarkan tanggung jawab, disiplin, yang merupakan karakter bangsa. Aksi corat-coret yang dilakukan seolah mengekspresikan diri bahwa setelah lulus aturan di sekolah tidak berlaku lagi, aksi corat-coret tersebut mereka anggap sebagai suatu bentuk pemberontakan seakan-akan peraturan sudah tidak mengikuti kembali. Ini sangat berdampak buruk bagi generasi selanjutnya, yang mana generasi sebelumnya tidak memberikan contoh yang baik kepada generasi selanjutnya, namun mereka malah memberikan contoh yang buruk dengan melakukan aksi corat-coret yang tidak bermanfaat itu. Sehingga bukan tidak mungkin mereka akan menirunya pasca kelulusan. Sungguh miris selama tiga tahun menuntut ilmu, pendidikan karakter yang merupakan karakter bangsa tidak melekat pada diri siswa dan siswi tersebut dan akan berdampak buruk ke depannya, mereka akan beranggapan bahwa setelah lulus, aturan sekolahpun sudah tidak berlaku. Padahal aturan sekolah adalah untuk menjadikan siswa disiplin dan bertanggungjawab.

 

Seharusnya guru turun tangan untuk mengatasi aksi corat-coret ini dengan melakukan pengumpulan baju seragam, menyumbangkan baju seragam kepada mereka yang lebih membutuhkan, contohnya panti atau korban yang terkena bencana.

Tags:

Related Posts

One Response

  1. author

    faiqSeptember 29, 2018 at 05:12Reply

    Coba lihat dari sudut pandang yang lain. Mengapa mereka melakukan hal tersebut? Apakah mereka yang salah atau sekolah yang salah atau bahkan sistem yang mengekang? Hal ini sama saja dengan siswa yang bahagia ketika pulang cepat. Mengapa mereka senang? Apakah pelajaran disekolah tidak menyenangkan atau bahkan sistem yang terlalu memaksa? Mereka bahagia, karena bebas dari yang mengekang

Leave a Reply