Sikap Orang Tua Saat Buah Hati Mulai Pacaran

Artikel 0

oleh: Budiyanti Anggit

Ayah-Bunda, beberapa hari lalu seorang ayah memukul anak gadisnya yang duduk di kelas 9 hingga luka memar di pelipisnya. Selidik punya selidik ternyata orangtua tersebut mengetahui anaknya berusia 14 tahun berbohong.

Bukan hanya kebohongan itu saja yang membuat orangtua berang. Ada hal lain yang membuat ayah naik pitam, yaitu anak ternyata tidak belajar kelompok sebagaimana izin yang disampaikan melainkan berkencan dengan seorang lelaki. Yang lebih menyakitkan orangtua adalah anak gadisnya berpacaran dengan anak yang tidak bersekolah.

Kenyataan tersebut membuat orangtua prihatin. Hal ini mungkin pernah juga dialami sebagian orangtua. Entah itu cinta monyet atau apa, yang jelas remaja sekarang gengsi kalau dirinya tidak punya pacar. Mereka tidak sungkan lagi ketika ditanya tentang siapa pacarnya. Padahal mereka masih belum berusia 17 tahun. Bahkan mereka tidak malu lagi bermesraan, berduaan dengan pacarnya di tempat umum.

Orangtua kadang kewalahan. Berbagai upaya dilakukan tetapi sesudah jera lain hari mengulang lagi. Lebih menjengkelkan lagi orangtua mendapat undangan dari sekolah karena anaknya membolos demi kencan dengan si pacar.

Mari kita bersama-sama merenung mengapa anak kita sampai berbuat seperti itu. Kita bersama-sama mengurai sebelum telanjur ada peristiwa yang lebih tragis. Tak ada gunanya anak dihukum dengan pukulan atau tamparan. Hal ini justru menjadikan mereka lebih nekat dan bisa juga malah dendam.

Ada beberapa hal yang harus kita benahi agar anak kita bisa terhindar pergaulan yang kurang baik tersebut:

Bicara dari hati ke hati

Ajaklah anak kita ke suatu tempat. Bisa makan bakso bersama atau berjalan-jalan di objek wisata terdekat. Dengarkan kata-kata anak. Biarkan berbicara sesuai hatinya. Tidak usah marah kala dia bercerita tentang pacarnya. Belajar menjadi pendengar yang baik. Dudukkan diri kita seperti teman. Sesekali tanya tentang lelaki pujaan anak.

Nah, setelah panjang lebar anak bercerita barulah kita pengaruhi pikirannya dengan nasihat-nasihat yang baik. Tidak usah dengan emosi. Katakan apa dampak negatif dan positif kalau anak mengenal cinta. Katakan bahwa manusia diciptakan memang untuk saling mengasihi. Namun, alangkah baiknya sekarang fokus agar pelajaran tidak terganggu.

Beri kegiatan yang positif

Misalnya, ikutkan kursus-kursus yang menunjang kegiatan seolah. ikut karang taruna, remaja masjid. Undang guru ngaji untuk belajar Alquran. Beri dorongan agar mereka mau mengikuti kegiatan tersebut.

Tumbuhkan untuk gemar membaca

Ajaklah berbelanja buku. Belikan buku-buku agama yang pas untuk remaja. Lebih asyik lagi jika setelah membaca, anak diajak menulis. Dengan membaca dan menulis, mereka akan mendapat pengetahuan akan baik. InsyaAllah akan tidak berpikir lagi untuk berpacaran.

Memberi penghargaan

Memberi reward pada anak yang telah menyelesaikan tugas. Misalnya sampai mendapat nilai baik. Bisa berupa buku atau ajak rekreasi keluarga. Dengan begitu anak akan lebih semangat belajar. Kegiatan ini akan membuat dirinya sibuk dan tak ada lagi berpikir hal lain yang kurang baik.

Tingkatkan komunikasi

Komunikasi sangat penting. Apalagi sekarang ada sarana berupa gawai. Sesering mungkin kita chating untuk mengetahui keberadaanya, bertanya makannya atau apa saja. Jangan lepas kendali. Apalagi bila kita bekerja. Hal ini juga sebagai bentuk kasih sayang pada mereka.

Dengan beberapa cara tersebut akan ada pencerahan sehingga anak lebih mementingkan belajar dari pada pacaran. Tentu saja semua itu diiringi sikap orangtua yang bijak. Tak lupa orangtua selalu mendoakan anak agar menjadi anak yang saleh atau salihah dan berkepribadian serta berbudi pekerti yang baik.

Keteladanan berakhlak baik juga mendorong anak meniru perbuatan baik kita. Satu perbuatan akan lebih baik dari seribu kata.

Tags:

Related Posts

Leave a Reply