Buku, Keluarga dan Kemajuan Bangsa

Artikel 0

oleh: Siti Anisah (Pegawai BPS Kabupaten Kuningan)

 

 

Buku adalah mercusuar peradaban. Buku adalah jendela dunia. Kemungkinan banyak yang belum tahu bahwa dua bulan ini bisa dikatakan bulannya dunia literasi. Dimulai dari bulan April, di mana tanggal 23 April merupakan Hari Buku Sedunia, dikenal pula dengan Hari Buku dan Hak Cipta Sedunia dan Hari Buku Internasional, nama resminya sendiri adalah National World Book Day, selanjutnya kita pakai Hari Buku Sedunia.

 

Hari Buku Sedunia dirayakan pertama kali pada tanggal 23 April 1995 yang diadakan oleh UNESCO yang tujuannya untuk mempromosikan peran membaca, penerbitan dan hak cipta. Menurut Wikipedia, latar belakangnya dicanangkannya Hari Buku Sedunia dibuat oleh toko buku Catalonia, Spanyol pada tahun 1923.

 

Ide awalnya berasal dari penulis Valencia, Vicente Clavel Andres sebagai cara untuk menghargai penulis Miguel de Cervantes yang meninggal pada tanggal 23 April.

Selain itu, ditanggal tersebut juga merupakan hari kematian penulis William Shakespeare dan Inca Garcilaso de la Vega, serta hari lahir atau kematian beberapa penulis lain. Indonesia pertama kali memperingatinya pada tahun 2006 dengan prakarsa Forum Indonesia membaca yang didukung oleh berbagai pihak, yakni pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas dan masyarakat umum.

 

Selanjutnya adalah tanggal 2 Mei. Di mana kita ketahui bersama sebagai merupakan Hari Pendidikan Nasional. Tidak Jauh dari Hari Pendidikan Nasional, tepatnya tanggal 5 Mei 2018 di media sosial banyak kita dapati status-status dengan hashtag #GERNASBAKU.

 

Sebenarnya apa sih, GERNAS BAKU itu? GERNAS BAKU merupakan singkatan dari Gerakan Nasional Orang tua Membaca Buku, adalah program pemerintah dibawah koordinasi Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, Ditjen PAUD dan Dikmas Kemdikbud.

 

GERNAS BAKU kepada anak merupakan gerakan untuk mendukung inisiatif dan peran keluarga dalam meningkatkan minat baca anak melalui pembiasaan di rumah, di satuan pendidikan PAUD, dan di masyarakat. Tujuan dari gerakan ini adalah untuk membiasakan orang tua membacakan buku bersama anak sehingga tercipta hubungan sosial–emosional atara anak dan orang tua yang erat, serta menumbuhkan minat baca anak sejak dini.

 

Karena orang tua mempunyai peranan penting dalam menumbuhkan minat baca pada anak. Begitulah yang disampaikan oleh Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Dr. Sukiman, M.Pd. Dalam sambutannya membuka diskusi kelompok terpumpun antara Kemdikbud dengan beberapa lembaga terkait, pada Senin (12/2/2018) di ruang sidang Ditbindikkel, Gedung C lantai 13 Kemdikbud menjelaskan bahwa ”Membacakan buku sebuah kebutuhan dalam pengasuhan karena banyak orang yang sukses diawali dengan kecintaannya akan membaca.”

Terakhir, Tanggal 17 Mei nanti ditetapkan sebagai Hari Buku Nasional.

 

Penetapan ini dilakukan untuk memperingati berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas) di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1980. Ide penetapan Hari Buku Nasional berasal dari Menteri Pendidikan dari Kabinet Gotong Royong, yaitu Bapak Abdul Malik Fadjar pada tahun 2002.

 

Biasanya Perayaan Hari Buku Nasional selalu disandingkan dengan minimnya buku yang dicetak atau rendahnya produksi buku per tahun. Hal ini bisa jadi disebabkan rendahnya minat baca dan rendanhnya daya beli masyarakat terhadap buku. Daya beli sendiri dipengaruhi oleh harga buku yang mestinya lebih terjangkau. Sedangkan harga buku, dipengaruhi oleh variabel pajak kertas, harga kertas dan honor penulis serta pajak penulis.

 

Setiap orang pernah membaca buku. Namun apakah lantas menjadikan membaca sebagai budaya? Dewasa ini, budaya membaca di Indonesia sudah tertinggal jauh dibandingkan negara lain. Menurut hasil penelitian Programme for International Student Assesment (PISA) tahun 2012,

 

Indonesia berada pada posisi 60 dengan skor 396 dari total 65 peserta negara untuk kategori membaca. Sedangkan skor rata-rata internasional yang telah ditetapkan adalah 500. Data yang lebih mengenaskan, berdasarkan hasil kajian Most Littered Nation In the World 2016, minat baca Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara.

 

Kenyataan ini sangat memprihatinkan dan memperlihatkan betapa rendahnya angka literasi atau minat bacamasyarakat Indonesia. Dari dalam negeri, menurut data SOSBUD yang terintegrasi SUSENAS, survey yang dilakukan BPS menyebutkan bahwa pada tahun 2015 persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang membaca surat kabar/ majalah sebesar 13,11%.

 

Nilai ini timpang dibanding persentase penduduk 10 tahun ke atas yang menonton televisi yaitu sebesar 91,47. Dalam kurun satu dasawarsa, persentase penduduk berusia 10 tahun ke atas yang membaca surat kabar/ majalah semakin menurun, yaitu pada tahun 2003 sebesar 23,70, tahun 2006 sebesar 23,46, tahun 2009 sebesar 18,94, tahun 2012 sebesar 17,66 dan tahun 2015 turun 4,55 point menjadi 13,11.

 

Sebaliknya persentase penduduk usia 10 tahun ke atas dalam kurun yang sama terus naik. Kenaikan dari tahun 2003 sampai 2012 sebesar 6,74 poin, dan sedikit menurun pada tahun 2015 yaitu menjadi sebesar 91,47. Hal ini sedikit banyak menunjukan bahwa penduduk 10 tahun ke atas makin banyak meminati televisi dan makin menurun minat bacanya.

 

Berangkat dari realita ini sehingga diperlukan adanya sebuah gerakan nasional untuk menumbuhkan budaya membaca di seluruh lapisan masyarakat. Dimulai dari struktur terkecil masyarakat bernama keluarga. Diawali dari sejak dini dengan mengenalkan buku pada anak, sehingga menumbuhkan kecintaan akan buku, yang pada akhirnya akan menumbuhkan minat baca anak dan kebiasaan membaca.

 

Membaca buku memiliki banyak sekali manfaat. Untuk anak-anak sendiri, membaca bisa bermanfaat untuk menambah kosakata baru, meningkatkan rasa ingin tahu, mengembangkan daya imajinasi anak dan meningkatkan kemampuan mengungkapkan ide.

 

Apa yang orang tua perlu lakukan? Beberapa hal yang perlu dilakukan Ayah Bunda untuk menumbuhkan minat baca pada anak, untuk dapat menikmati buku, bukan hanya bisa membaca, namun juga perlu menikmati proses membaca. Bahkan bisa dibilang lebih penting dibandingkan sekadar bisa membaca.

 

Anak yang lancar membaca namun tak suka membaca, kemungkinan lebih melakukan hal lain. Misal, bermain games di gadget, yang terus terang lebih banyak rugi daripada untungnya.

Supaya anak suka membaca, perlu dibuat semenyenangkan mungkin. Tunjukkan wajah senang Anda ketika membaca bersama anak.

 

Tidak hanya lewat buku, kita juga bisa memperkenalkan proses membaca dengan menunjukkan berbagai bacaan di sekitar kita, mulai dari plang nama jalan, nama gedung, uang, tulisan di depan ruang dokter, dan di manapun Anda menemukan kata-kata yang dapat dibaca. Namun yang tak kalah penting adalah, mengenalkan proses membaca ini sesuai dengan tahap perkembangan anak.

 

Supaya menyenangkan, kenalkan apa pun manfaat dari membaca. Berikut ini adalah beberapa contoh manfaat membaca dan memperkenalkannya.

Untuk mengetahui informasi baru. Sebelum membuka buku baca bersama anak, tanya siapa nama tokoh yang ada di sampul buku tersebut. Anak mungkin menggeleng karena tidak tahu. Buka halamannya, tunjukkan tulisan yang menyebutkan nama tokoh tersebut kepada anak.

 

Cara ini juga bisa dilakukan untuk jenis bacaan apa pun dan di manapun.

Untuk meningkatkan keterampilan berbahasa. Awalnya mendengar, dilanjutkan dengan mengucap, akan diteruskan dengan proses menulis. Bacakan cerita dengan intonasi yang tepat, agar anak mengenal kata-kata, jarak/spasi antar kata, struktur kalimat, atau pun penggunaan tanda baca. Sesekali kepada anak yang sudah bisa berbicara tanyakan apa yang baru saja dibaca, agar si anak belajar mengungkapkan apa yang diketahuinya.

 

Untuk menikmati cerita. Ajak anak memilih buku yang ingin dibacanya. Pilih tempat membaca yang nyaman, anak boleh minta dipangku atau duduk bersebelahan. Perlihatkan gambar dan tulisan di buku tersebut untuk menarik perhatiannya.

 

Semakin menikmati proses membaca. Sudah rahasia umum kalau anak suka sekali mengulang cerita yang sama. Membaca berulang memberikan pemahamaman semakin dalam tentang bacaan tersebut kepada anak. Apalagi kalau Anda yang sebenarnya merasa bosan namun harus tetap membacakannya lagi dengan riang, anak akan merasa disayang sehingga menganggap membaca itu memang menyenangkan.

 

Terakhir, Menurut lanang Manggala “Penguatan budaya Literasi adalah kunci memajukan negeri ini” untuk itu mari bersama membangun negeri.

Tags:
Rate this article!

Related Posts

Leave a Reply