Themes WordPress Premium

Dilematik Bintang Kelas dalam Prospek Kehidupannya

Opini 3
Sebelum Kurikulum 2013 meluncur, peringkat siswa disekat berdasarkan aspek pengetahuan. Sehingga muncul anggapan, yang selalu menjadi juara kelas pada zamannya,dianggap paling pintar dan berhak menyandang gelar bintang kelas, lebih ironis lagi ‘anak emas’. Kadangkala sandangan seperti itu membuat siswa lainnya merasa tidak diistimewakan.

Diberbagai kegiatan diskusi tentang pendidikan selalu diungkap pendapat Marzano (1985) dan Bruner (1960) yang mengemukakan bahwa keseimbangan sikap, keterampilan dan pengetahuan untuk membangun soft skill dan hard skill di SD, SMP, SMA dan PT. Angka persentase sikap jenjang SD lebih besar daripada keterampilan, begitu pun pengetahuan, sedikit sekali. Semakin tinggi jenjang pendidikan, justru mengalami keterbalikan persentase. PT memiliki angka persentase sikap lebih kecil dibanding keterampilan, sedangkan aspek pengetahuan hampir sama dengan keterampilan.

Tetapi pada kenyataannya, siswa yang tidak mendapat peringkat di kelas, seringkali dicap biasa saja. Padahal menurut Multiple Intelligence, semua anak luar biasa dan istimewa. Akan tetapi struktur penilaian yang ada, kadang membelenggu kinerja guru untuk menilai siswa hanya aspek pengetahuan saja. Maka tidak aneh, ketika siswa yang di SD tidak mendapat peringkat, akan tetapi setelah SMA atau PT, justru menemukan jati diri dan rasa optimisme tinggi. Meskipun ia menyadari tidak mempunyai pengetahuan yang bisa diadu dengan rekan sejawatnya, tapi ia jadikan kelemahannya sebagai kelebihan diri yang tak dimiliki orang lain.

Banyak kasus seperti di atas. Misalnya ia selalu mendapat peringkat di SD tetapi nasibnya justru buruk, karena tidak bisa melanjutkan ke jenjang SMP atau SMA. Sebaliknya, ada yang biasa-biasa saja, tanpa prestasi apapun, tetapi ia mau belajar hingga ke Perguruan Tinggi. Karena ia tahu bahwa dirinya tak seistimewa teman sejawatnya. Oleh karena itu, akan terus ada rasa kurang puas dalam mencari ilmu. Hingga ia merasa klimaks dan bintang kelas selama sekolah berbalik menganggapnya lebih cocok menjadi bintang meski tak dianggap istimewa karena indikatornya hanya sekedar pintar. Padahal pintar itu bukan karena nilai yang tinggi, tetapi orang yang terus menerus mau belajar tanpa merasa puas.

Cobalah perhatikan! masih ingat dengan teman yang sering mendapat peringkat di kelas? atau Anda sendiri? tengok diri Anda, sudah menjadi apakah diri Anda ? atau sudah menjadi apa teman Anda kini dengan peringkat ‘angka-angka jebakan’ itu? Apakah karirnya moncer atau justru jungkir balik? Lalu apakah aspek pengetahuan tidak penting? Tidak juga. Aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap harus seimbang. Karena pintar saja tidak cukup, jika tak memiliki jiwa sosial. Terampil saja tidak cukup, jika tidak mempunyai rasa percaya diri. Pandai berkomunikasi saja tidak cukup, jika tidak mempunyai keterampilan. Jadi, disamping aspek pengetahuan yang luas, keterampilan dan sikap pun harus sebanding. Ini yang kemudian dikenal dengan istilah Soft Skill.

Menurut Howard (1985), Konsep tentang soft skill sebenarnya merupakan pengembangan dari konsep yang selama ini dikenal dengan istilah Kecerdasan Emosional (emotional intelligence). Soft skill sendiri diartikan sebagai kemampuan diluar kemampuan teknis dan akademis, yang lebih mengutamakan kemampuan intra dan interpersonal. Secara garis besar soft skill bisa digolongkan ke dalam dua kategori : intrapersonal dan interpersonal skill. Intrapersonal skill berkaitan dengan diri sendiri, sedangkan interpersonal skill berkaitan dengan orang lain.

Tidak ada jaminan bintang kelas menjadi lebih bersinar dibanding yang ‘biasa’ saja. Diberbagai literatur ditulis bahwa yang menentukan sukses atau tidaknya seseorang adalah sikap (attitude). Benar atau tidak, memang masuk akal juga. Banyak contoh, orang yang sangat cerdas dan mempunyai keterampilan yang hebat, tetapi sikapnya nol, maka semuanya tidak berarti. Orang lain akan menilainya ‘jeblok’. Pandangan masyarakat pun begitu, analogi sederhananya “percuma jadi tokoh agama, jika masih bersikap tidak menyenangkan orang lain”.

Orang yang selalu ingin belajar tidak menutup kemungkinan prospek hidupnya lebih baik daripada orang yang merasa mempunyai gelar ‘bintang kelas’ tetapi cukup dengan sanjungan teman dan guru. Penutup, memang menjadi dilema bagi sang bintang kelas yang moncer pada zamannya tetapi sekarang meredup karena berhenti belajar. Bintang sebenarnya adalah orang yang selalu ingin belajar dan menjadi lebih baik dengan selalu merasa tidak puas dengan ilmu yang sudah didapat. Bukan bintang dengan ‘jebakan angka-angka’ penyenang hati dan memuaskan diri, sehingga dicukupkan sekolahnya sampai di sini.

Tags:
author

Author: 

Prinsip yang selalu saya pegang, setiap orang mempunyai celah dan peluang untuk mengorbitkan dirinya sendiri, jika orbit yang kita telusuri jauh dari jati diri, maka mencari celah adalah jalan terbaik untuk mengorbitkan diri sendiri tanpa harus ikut orbit orang lain. Tak mesti menyaingi kecerdasan orang lain untuk bisa sejajar dengan orang-orang cerdas, cukup menjadikan kekurangan sebagai cerminan dan keunikan sebagai kelebihan yang tak dimiliki orang lain adalah sebuah kecerdasan yang tak semua orang punya.

Related Posts

3 Responses

  1. author

    Neni RohaeniJanuary 21, 2017 at 16:46Reply

    Betul sekali,, kudu mawas diri

  2. author

    Calon TraderJanuary 22, 2017 at 22:18Reply

    Artikel yang membangun utk terus belajar tiada henti…jadilah bintang dengan belajarmu yg tak pernah puas…jadilah sang pejuang dan pemenang sejati yang tak pernah redup semangatnya…Insya Allah masa depan lebih cerah.

  3. author

    Toto Si MandjaFebruary 2, 2017 at 15:46Reply

    selalu. tanpa henti.

Leave a Reply