Egoisme Orang Tua Bayar Pendidikan Anak

Opini 0

oleh: Nita

Peran orang tua dalam menentukan kualitas pendidikan anak tentu merupakan faktor yang sangat penting. Dimana seorang anak mendapatkan pendidikan rata-rata merupakan keputusan dari pihak orang tua.

Dewasa ini, semakin banyak sekolah-sekolah yang menawarkan program-program unggulan dengan mengikuti perkembangan zaman, seperti sekolah bertaraf internasional dengan penguasaan bahasa-bahasa asing. Sekolah berbasis lingkungan yang mengedepankan pembelajaran dengan pendekatan alam, atau sekolah yang mengutamakan pendidikan agama sebagai acuan dasar dengan konsep yang lebih modern.

Sekolah-sekolah tersebut ada bukan hanya bagi para peserta didik di usia menengah, seperti SMP maupun SMA/SMK. Akan tetapi, sekolah bagi anak usia sekolah dasar pun sudah semakin menjamur bahkan siap bersaing dengan sekolah negeri pada umumnya.

Rata-rata, sekolah seperti itu kepemilikannya bersifat swasta dan berada dibawah naungan sebuah yayasan. Sehingga, tak jarang masyarakat menilai bahwa sekolah-sekolah tersebut adalah sekolah mahal.

Namun, biarpun disebut sebagai sekolah mahal, tetap saja para orang tua sudah mulai paham bahwa dengan biaya mahal tersebut akan berbanding lurus dengan kualitas pendidikan yang didapat oleh anak-anaknya. Para orang tua percaya, dengan memasukkan anaknya ke sekolah yang bagus maka akan didapat pula hasil yang bagus.

Hal tersebut tentu akan menjadi kenyataan apabila seorang anak mendapat double supports dari dua pihak yang mendidik, yaitu orang tua dan sekolah.

Seorang anak akan mendapat hasil pendidikan yang memuaskan saat kedua belah pihak bersinergi positif dalam mendidik anak. Anak akan mendapatkan energi positif berupa semangat lebih untuk menjalani masa-masa pendidikan.

Ia akan merasa nyaman bahkan senang biarpun akan semakin banyak hal yang harus ia pelajari. Semangatnya pun tidak akan mudah turun sehingga potensi yang dimiliki anak akan semakin berkembang.

Sinergi positif antara pihak orang tua dan pihak sekolah harus selalu diupayakan dengan adanya kesamaan visi dalam mendidik seorang anak. Misalnya, pihak sekolah memberikan program-program terbaik dengan dukungan penuh dari pihak orang tua.

Tak jarang, program-program yang ada di sekolah membutuhkan peran aktif orang tua selama di rumah. Berkenaan dengan hal tersebut, orang tua juga harus rela menerima pekerjaan lebih dari pihak sekolah sebagai bagian dari pendidikan.

Akan tetapi, tetap saja tidak semua orang tua memiliki kesadaran untuk bersinergi positif dengan pihak sekolah. Mereka beranggapan bahwa sekolah yang mereka pilih adalah sekolah yang akan memberikan pelayanan maksimal karena standar harga yang dibayarkan pun sudah tinggi.

Tak jarang, sebagian dari mereka sudah lepas tangan terhadap pendidikan anak mereka selama di rumah. Sikap acuh mereka terhadap ajakan positif pihak sekolah itu semakin menjadi kebiasaan manakala mereka berdalih dengan berbagai macam alasan.

Kesibukan dengan pekerjaan mereka masing-masing menjadi alasan utama. Bahkan, sebagian dari mereka merasa tidak memiliki kesanggupan untuk mengikuti program sekolah tanpa berani untuk mencoba lebih dulu.

Tak sedikit pula orang tua yang membayar pihak lain demi kesuksesan proses pendidikan anak-anaknya. Hal itu membuat sang anak tidak banyak tersentuh didikan langsung dari orang tuanya.

Tipe orang tua seperti itu tidak menyadari bahwa sikap mereka sendiri akan menjadi faktor utama manakala anaknya ternyata dinilai gagal menempuh proses pendidikan.

Lucunya, orang tua yang gemar membayar pihak lain tersebut akan menyalahkan pihak-pihak yang mendidik anak-anaknya ketika anak-anaknya gagal. Mereka menganggap bahwa harga yang telah mereka bayarkan tidak sejalan dengan hasil yang diharapkan.

Mereka tidak lantas berintropeksi diri mengingat kekurangan-kekurangan yang ada pada diri mereka selaku orang tua. Dengan kata lain, mereka akan dengan mudah mencari kambing hitam ketika anak-anaknya dinilai gagal dalam proses pendidikan.

Tags:
author

Author: 

Prinsip yang selalu saya pegang, setiap orang mempunyai celah dan peluang untuk mengorbitkan dirinya sendiri, jika orbit yang kita telusuri jauh dari jati diri, maka mencari celah adalah jalan terbaik untuk mengorbitkan diri sendiri tanpa harus ikut orbit orang lain. Tak mesti menyaingi kecerdasan orang lain untuk bisa sejajar dengan orang-orang cerdas, cukup menjadikan kekurangan sebagai cerminan dan keunikan sebagai kelebihan yang tak dimiliki orang lain adalah sebuah kecerdasan yang tak semua orang punya.

Related Posts

Leave a Reply