Guru Ujung Tombak Dunia Literasi

Artikel 0

Hari ini (24/11), hari yang pasti akan kusesali seumur hidup karena tidak ikut merayakan Hari Guru Nasional di Kantor Kemendikbud Jakarta. Ku coba tutupi wajah sedih karena semakin banyak rekan penulis mengunggah foto kebahagiaan mereka, semakin murung wajah ini.

Entahlah, karena banyak kesibukan, akhirnya harus ada yang dikorbankan salah satu. Sebenarnya agenda Hari Guru Nasional adalah agenda yang ditunggu-tunggu sejak lama. Pasalnya bertepatan dengan itu, komunitas guru penulis bersama-sama launching buku dan berbagi wahana literasi Indonesia.

Hari Guru Nasional ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 68 Tahun 1994. Dari perjalanan panjang inilah kemudian Undang-undang tentang Guru dan Dosen muncul.

Guru sebagai pemegang tombak perubahan peradaban, harus mampu menjadi penoreh tinta emas pemikiran. Literasi merupakan langkah tepat untuk mewujudkan itu. Sejarah akan mencatat bahwa guru yang akan dikenang adalah guru yang mempunyai karya tulis. Dunia pun akan mengakuinya.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan secara resmi meluncurkan Gerakan Literasi Sekolah pada tanggal 18 Agustus 2015. Ini memperkuat amunisi guru untuk tidak mundur dari medan perang dunia literasi.

Bait hymne guru berbunyi “Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku”, guru yang tak punya karyapun akan selalu hidup dalam sanubari, apalagi guru kaya karya.

Akhirnya, guru sebagai ujung tombak penggerak dunia literasi seyogyanya mampu menghidupkan tradisi menulis. Menulis tak hanya untuk diri sendiri tapi juga orang lain. Menulis tak hanya sendiri tapi juga memberdayakan orang lain.

Tags:
Rate this article!

Related Posts

Leave a Reply