Anak, Informasi dan Pengetahuan di Zaman Digital

Artikel 0

oleh: Sri Rahayu

Era digital memberikan banyak kemudahan bagi kita semua dalam berbagai lini kehidupan. Tak terkecuali bagi anak-anak.

Dunia pendidikan sangat terbantu dengan adanya kemajuan teknologi. Capaian kompetensi bisa dicapai lebih mudah dan efisien dengan bantuan internet. Semua kebutuhan dapat terpenuhi dalam satu sentuhan dalam genggaman, termasuk kebutuhan informasi dan pengetahuan. Hanya dengan memasukkan keyword-keyword tertentu anak-anak bisa dengan mudah mengakses informasi dan pengetahuan secara luas dan mendalam.

Namun, apakah kepuasan kita sebagai orang tua dan guru terpenuhi jika anak-anak kita hanya mampu mengakses informasi saja atau dengan kata lain anak-anak hanya menjadi konsumen terhadap informasi dan pengetahuan?

Di tengah arus informasi yang kian deras, menjadi konsumen informasi dan pengetahuan tentu bukanlah goal dari kecakapan hidup yang kita inginkan. Jika tidak pandai memilah, anak-anak akan menjadi korban hoax atau kabar yang belum dapat dipastikan kebenarannya. Selain itu, menjadi ’konsumen’ saja juga bisa mengerdilkan kemampuan berpikir kritis, kemampuan pemecahan masalah serta kepercayaan diri anak. Sehingga sebagai guru dan orangtua perlu mendorong agar anak-anak kita tidak lagi menjadi konsumen tetapi menjadikannya sebagai produsen informasi dan pengetahuan.

Untuk menjadi produsen informasi dan pengatahuan kendala yang dihadapi adalah ’harus memulai darimana dan apakah saya bisa?’ Jawabannya adalah ’bisa’.

Mulailah dari potensi yang dimiliki anak-anak. Misalnya, anak-anak yang pandai melukis, mulailah dengan membuat tips-tips melukis. Atau tutorial membuat handycraft, esksplorasi olahraga tertentu dan sebagainya. Dengan menggali potensi yang dimiliki, anak-anak akan lebih percaya diri dalam menuliskan, menunjukkan dan mempublikasikan suatu informasi dan pengetahuan.

Jika anak tidak memiliki potensi yang menonjol atau sesuatu yang dikuasai, tengoklah lingkungan sekitar. Sesuai definisinya, pengetahuan dalam KBBI adalah segala sesuatu yang diketahui. Jadi, eksplorasilah lingkungan sekitar yang telah diketahui anak-anak dengan baik, mulai dari lingkungan keluarga.

Misalnya kebiasaan-kebiasaan positif yang dilakukan di rumah yang bisa memberikan inspirasi bagi orang lain. Bisa juga kegiatan di lingkungan sekolah, kearifan lokal dalam masyarakat, tumbuhan khas, makanan khas dan sebagainya.

Hal yang lebih menantang, bimbinglah anak-anak untuk melakukan eksperimen sederhana yang didapat dari berbagai sumber. Misalnya mencampur warna merah dengan warna kuning, meneteskan cairan jeruk nipis ke dalam susu, dan lain-lain. Uraikan gejala yang terjadi, bila perlu dijelaskan secara ilmiah.

Anak-anak juga bisa dibimbing untuk melakukan studi literatur terhadap tema-tema tertentu. Misalnya, mengenai hujan. Kumpulkan berbagai buku, artikel atau jurnal yang berkaitan dengan hujan. Bimbing anak-anak untuk membaca, menjelaskan dan menarik kesimpulan berdasarkan sudut pandangnya. Luruskan hal-hal yang kurang tepat.

Perlu diingat, informasi dan pengetahuan tidak selalu persoalan sains, tetapi bisa mengenai seni, budaya, kuliner, olah raga, dan lain-lain.

Setelah menuliskan informasi dan pengetahuan, bimbinglah anak-anak untuk memublikasikannya. Memanfaatkan kemajuan teknologi, hal yang paling mudah adalah melalui internet, melalui blog pribadi, facebook, instagram, vlog dan sarana lainnya. Ubahlah media sosial milik anak-anak menjadi hal yang memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain.

Dengan membiasakan anak-anak menjadi produsen informasi dan pengetahuan, diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis, kepercayaan diri serta kemampuan memecahkan masalah yang pada akhirnya dapat memberikan kontribusi yang lebih besar dan lebih luas sehingga mereka mampu menghadapi tantangan di era 4.0.

Tags:

Related Posts

Leave a Reply