Jalan Berliku Pendidikan Keluarga

Artikel 0

oleh: Yanuar Jatnika

Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan masih harus terus berjuang meyakinkan semua pihak tentang pentingnya pendidikan keluarga, yang dalam hal ini pelibatan keluarga pada kegiatan di satuan pendidikan, dalam meningkatkan prestasi dan penguatan karakter peserta didik.

“Jangankan masyarakat, keluarga dan satuan pendidikan, beberapa pejabat di lingkungan Kemdikbud pun masih ada yang belum yakin tentang hal itu. Ini jalan terjal yang harus dilalui Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga agar visi dan misinya bisa tercapai.” Demikian dikatakan Direktur Jenderal PAUD dan Dikmas, Kemdikbud, Harris Iskandar, Rabu, 31 Oktober kemarin.

Padahal, ditambahkan Harris, berbagai riset di dalam dan luar negeri sudah menunjukkan pentingnya pelibatan keluarga pada kegiatan di satuan pendidikan dalam meningkatkan prestasi dan penguatan karakter peserta didik. “Hal ini belum diketahui, dipahami, dan disadari banyak pihak, termasuk pelaku pendidikan di satuan pendidikan dan di lingkungan Kemdikbud. Harus terus dilakukan sosialisasi, baik itu berupa iklan, leaflet, dan sarana komunikasi lainnya, “ujarnya.

Salah satu upaya yang sudah dilakukan Kemdikbud, kata Harris, adalah diterbitkannya Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 30 Tahun 2017 Tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan, serta dibentuknya Pusat Pengembangan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Pendidikan Keluarga untuk regional Asia Tenggara (ASEAN) atau Southeast Asian Ministers of Education Regional Centre for Early Childhood Care and Education and Parenting (SEAMEO CECCEP).

Menyoroti bentuk pelibatan keluarga seperti yang tercantum di Pasal 6 Permendikbud No. 30/2017, Harris menilai, pelibatan keluarga dalam bentuk penyelenggaraan kelas orangtua atau parenting merupakan hal yang paling penting, sebab menyangkut pola asuh anak di keluarga yang akan menentukan karakter anak.

“Pertemuan orangtua dengan walikelas saya kira sudah banyak dilakukan satuan pendidikan, begitu pula dengan pentas akhir tahun. Yang penting menurut saya itu kelas orangtua atau parenting, “katanya.

Hal lain yang harus diperhatikan dalam penyelenggaraan pendidikan keluarga, tegas Harris, adalah terkait keberadaan paguyuban kelas yang merupakan forum komunikasi nonformal para orangtua peserta didik di masing-masing kelas. Hal ini terkait dengan keberadaan Komite Sekolah yang secara struktural sudah ada di setiap sekolah. Sebab, di dalam komite sekolah itu sudah ada perwakilan orangtua.

Dalam sejarah persekolahan, lanjut Harris, dulu ada yang namanya BP3 atau Badan Pembantu Penyelenggara Pendidikan yang merupakan pengganti dari POMG atau Persatuan Orangtua Murid dan Guru. Lantas kelembagaan BP3 diganti oleh apa yang namanya komite sekolah. “Kalau paguyuban kelas ini kita perkuat, apa kita tidak balik lagi ke masa lalu, “tanyanya.

Padahal juga, kata Harris, keberadaan komite sekolah sampai saat ini juga masih belum membumi. “Saran saya, akan lebih baik bila penyelenggaraan pendidikan keluarga ini dilakukan dengan memperkuat keberadaan komite sekolah, “katanya.

Menanggapi hal itu, Direktur Pembinaan Pendidikan Keluarga, Sukiman, mengatakan, keberadaan paguyuban kelas tidak untuk melemahkan komite sekolah tapi sebaliknya bisa memperkuat. Ditegaskannya, paguyuban kelas itu bersifat nonformal yang merupakan insiasi para orangtua. Hal itu berbeda dengan komite sekolah yang pembentukannya diprakarsasai sekolah dan bentuknya formal. “Bahkan keberadaan paguyuban kelas ini cukup dengan grup WA saja misalnya, “katanya.

Tags:
Rate this article!

Related Posts

Leave a Reply