Jangan Menakut-nakuti Anak!

Artikel 0

oleh: Budiyanti Anggit

Beberapa hari lalu saya berakunjung ke saudara di Solo. Kebetulan ada keponakan yang berusia tiga tahun. Cowok imut berbadan gendut amat lincah. Suka sekali berlari ke sana ke mari. Untung ruangan sangat luas sehingga ia leluasa bergerak.

Namun, ada yang mengganjal di hati setiap saya bertemu orangtua yang menghadapi anak seusia keponakan tadi. Sang Ibu selalu menakut-nakuti anak dengan dalih agar anak menuruti perintah sang Ibu.

”Dik…jangan suka lari-lari nanti ada orang gila lewat lho!” atau ”Ayo segera habiskan nasi ini kalau tak mau makan nanti adik disuntik pak dokter lho.” Serta rentetan kata-kata yang intinya agar anak menurut perntahnya dengan berbagai dalih kebohongan.

Inilah kenyataan di lapangan. Usaha orangtua membujuk agar anak menurut perintahnya dengan cara yang keliru. Cara yang akan berefek kurang baik pada perkembangan psikologi anak. Anak jadi takut malam, takut bergerak, takut dengan pak polisi,takut dengan dokter.

Lantas, bagaimana cara membujuk agar anak menurut perintah orangtua tetapi tidak menakut-nakuti?

Pertama, mau makan

Sebaiknya bujuklah dengan kata-kata yang baik. Katakan, ”Kalau Dedek mau makan akan sehat, pintar dan cerdas.” Bisa juga contohkan dengan cerita bahwa anak sehat akan bisa jadi dokter, guru, dan sosok inspiratif lain.

Kedua, agar anak tidak berbuat berbahaya

Ketika anak berlari yang berlebihan, bermain yang berbahaya misal ada barang yang bisa melukainya. Sampaikan pelan-pelan tak perlu menakut-nakuti. Sampaikan, ”Kalau Dedek berlari-lari terus-menerus bisa membuat kaki sakit.” Katakan apa efek dari perbuatan yang membahayakan. Sampaikan jujur dengan bahasa yang baik.

Ketiga, membujuk untuk tidur

Biasanya anak sulit diajak tidur siang. Bujuklah dengan baik jangan menaku-nakuti dengan hal negatif. Sampaikan dengan kalimat bahwa bahwa tidur siang membuat sehat dan kuat. Kalau sehat dan kuat akan mudah belajar dan akan pandai. Atau bisa juga dengan membacakan dongeng pengantar tidur. Hal ini amat mudah agar anak mau tidur. Cerita belum usai, anak pasti sudah tidur.

Keempat, beri keteladanan.

Keteladanan adalah hal penting yang mudah ditiru anak. Tunjukkan kita makan teratur dan lahap dengan apapun lauknya. Tidur siang bisa juga kita mengajak bersama tidur siang. keteladanan apa pun bisa lebih mudah dilakukan anak.

Kelima, persiapkan dongeng

Kita bisa membacakan dongeng dengan tokoh sehat, kuat dan cerdas. Di saat membacakan bisa mengulasnya sambil menyelipkan pesan pada anak. Tanpa sengaja kita telah menanamkan sikap dan perilaku baik pada anak agar mau makan, mau tidur siang dan lain-lain. Jadi, tak ada jeleknya orangtua mempersiapkan buku dongeng sekaligus mengajarkan anak gemar membaca sejak dini.

Kelima hal tersebut akan menjadikan nasihat kita dituruti dan mudah dimengerti oleh anak. Tentu saja sebagai orangtua perlu kesabaran untuk menjadikan anak cerdas. Tak kalah penting adalah keteladanan.

Tags:
Rate this article!

Related Posts

Leave a Reply