Jogja, Kota Wisata Punya Cerita

Narasi 0

Hari ini cuaca terang ikut mengiringi perjalanan edukasi. Langit putih kebiruan melukiskan keindahan semesta nan asri.

Tepat pukul 16.00 WIB SMP Negeri 1 Tambakdahan sudah dipenuhi oleh guru dan siswa yang akan melakukan kunjungan edukasi ke kota pelajar. Orang tua dan sanak famili pun tak luput mengantarkan anak dan saudaranya.

Tidak semua guru ikut dalam kunjungan edukasi ini, karena berbagai kesibukan dan rutinitas yang tidak bisa ditinggalkan. Begitu pun siswa, yang mengikuti hanya kelas 8 saja. Sementara kelas 7 belum waktunya untuk mengikuti dan kelas 9 sedang fokus untuk Ujian Nasional.

Semalaman meluncur dari Subang, pukul 03.15 WIB empat rombongan bus tiba di kompleks Candi Borobudur. Nampak dari rombongan lain pun sudah tiba lebih dulu, waktu tersisa hingga pukul 06.00 digunakan untuk istirahat, tidur, ibadah, dan mandi.

Hari kedua (13/03) kunjungan edukasi ke Candi Borobudur, para siswa sangat antusias mendaki puncak dan melihat anugerah ciptaan Tuhan yang tak ternilai harganya ini. Rasa bangga nampak pada raut muka para siswa saat bisa mengunjungi salah satu situs kebudayaan yang sudah diakui oleh UNESCO ini.

 

Saya merenung sejenak, sempat terpikir,

“Bagaimana bisa candi ini berdiri begitu megahnya? Tuhan memang luar biasa!”

Apa yang tidak mungkin bagi manusia, bagi Tuhan sangat mungkin sekali. Hati kecil saya tak henti-henti mengucap rasa syukur atas anugerah kebudayaan Indonesia yang sangat diakui dunia ini.

Saya terakhir mengunjungi Candi Borobudur tahun 2005 silam, saat itu masih duduk di bangku SMP kelas VII. Sekarang saya kembali menginjakan kaki di Candi ini bersama keluarga yang sama, Keluarga Besar SMP Negeri 1 Tambakdahan (ex. SMP Negeri 2 Binong). Bukan sebagai siswa, tapi sebagai pendidik.

Setelah menghabiskan waktu selama 2 jam di Candi Borobudur, kami meluncur mengisi amunisi ke rumah makan terdekat.

Perjalanan dilanjut ke lokasi kedua, Museum Dirgantara. Museum Pusat TNI AU ini berada di Kompleks Landasan Udara Adi Sutjipto Kabupaten Bantul. Museum yang digagas oleh TNI AU ini bertujuan untuk mengabadikan peristiwa bersejarah dalam lingkungan TNI AU.

Puas di Museum Dirgantara, kami kembali melanjutkan perjalanan ke Tebing Breksi. Tebing Breksi merupakan tempat wisata yang berada di Kabupaten Sleman berdekatan dengan Candi Prambanan, Candi Ijo dan Keraton Boko.

Hanya sebentar saja menikmati panorama yang ada, cuaca rupanya tak mau kompromi. Awan hitam pekat menutupi langit di atas bus kami. Angin pun sesekali tertiup manja menyapu debu di parkir area.

Benar saja, ternyata cuaca tak mau kompromi. Rintik-rintik hujan pun mulai menyapa dan mengundang kami untuk segera masuk ke dalam bus. Hujan rintik-rintik menambah syandu suasana dalam bus. Suara pemandu wisata pun mulai terdengar tanda perjalanan menuju penginapan segera dilanjutkan.

Pukul 15.45 WIB rombongan tiba di penginapan di sambut rintik hujan yang masih setia menemani sejak perjalanan dari Tebing Breksi tadi. Tak lama berselang, semuanya check in dan berpisah menuju kamarnya masing-masing.

Hari ketiga (14/03), dari penginapan kami bertolak ke Candi Prambanan. Tak perlu waktu lama, sekitar 5 menit, kami tiba dan langsung melakukan sesi foto bersama untuk mengabadikan momen berharga ini.

Selama 2 jam kami habiskan waktu di Candi Prambanan. Bermain sambil belajar. Banyak sekali ilmu pengetahuan yang di dapat dari sini. Betapa tidak? Tak hanya teori yang diajarkan di sekolah. Siswa pun bisa melihat langsung keadaan Candi Prambanan yang merupakan aset kebudayaan Indonesia. Namun sayang, efek dari gempa beberapa waktu silam, sebagian candi luluh lantah seperti disapu badai prasangka. Hanya candi di komplek utama saja yang terlihat masih kokoh.

Di tengah keasyikan menghabiskan waktu di Candi Prambanan, suasana seketika pecah saat sumber suara menginformasikan bahwa rombongan kami harus segera berkumpul dan melanjutkan perjalanan. Kami pun harus mengakhiri keasyikan ini dengan raut muka yang kecut dan kelelahan.

Pukul 10.45 WIB kami meluncur ke pusat oleh-oleh, sekedar membawa buah tangan untuk sanak famili di rumah. Perjalanan terus berlanjut menuju Taman Pintar, yaitu studio tempat belajar dan permainan edukasi interaktif.

Tak berapa jauh dari Taman Pintar, kami berjalan menuju jalan Malioboro, nama jalan yang paling terkenal, untuk memanjakan mata dan membeli buah tangan khas Jogja.

Pukul 16.30 WIB semuanya sudah berada di dalam bus, dan melanjutkan perjalanan pulang menuju Subang. Untuk terakhir kalinya, makan malam dan berkaraoke ria bersama guru dan siswa di rest area. Habis sudah waktu petualangan kami di Jogja di hari ketiga. Hari ke empat, pagi hari diprediksikan kami akan tiba di Sekolah. Teng! Tepat pukul 04.30 kami sampai dengan selamat di halaman sekolah.

Karya Wisata adalah kunjungan edukasi paling mengasyikan. Salah satu cara mengenalkan siswa pada kenyataan hidup yang sebenarnya. Belajar tak melulu hanya di sekolah. Mengajarkan siswa melalui karya wisata adalah cara terasyik dalam pembelajaran berbasis kunjungan edukasi.

Tags:
Rate this article!

Related Posts

Leave a Reply