Kegalauan Siswa Nonmuslim di Sekolah Berbasis Islam

Opini 0
Saya sering kali bingung memikirkan pendidikan agama siswa nonmuslim di sekolah yang mayoritas beragama Islam. Sudah dipastikan pendidikan agama yang diajarkan adalah Pendidikan Agama Islam dengan guru yang beragama Islam pula. Apalagi jika sekolah tersebut sekolah dibawah yayasan Islam. Tentunya siswa nonmuslim tahu konsekuensi belajar di sekolah tersebut. Tulisan ini bukan untuk mendiskreditkan, tetapi memang pada realitanya seperti itu.

Mau tidak mau siswa tersebut mendengarkan dan mengikuti pelajaran agama yang tidak sesuai dengan keyakinannya. Meskipun sekolah memberikan otoritas kepadanya untuk mengikuti atau tidak, tapi seolah siswa tersebut tidak pernah mendapat pelajaran agama yang ia anut di sekolah. Sangat jarang sekali yang mau datang ke tokoh agamanya untuk mempelajari karena kemauan sendiri. Bahkan justru yang aneh, ketika ulangan pun harus meminta soal dari pihak tempat ibadah atau tokoh agamanya, padahal ia tak pernah diberi pelajaran sama sekali.

Padahal dalam UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 12 ayat (1) a, jelas disebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Namun kembali lagi pada realita, sangat jauh dari ayat di atas.

Suatu hari saya mengajar di SMP Negeri berbasis Islam di Kotamadya. Kebetulan saya tidak mengetahui jika di kelas tersebut ada siswi yang nonmuslim. Saya kira semuanya beragama Islam, tanpa babibu saya langsung jelaskan tentang Malaikat dan tugasnya. Tiba pada akhir pembelajaran yaitu evaluasi, saya tanya beberapa siswa yang ditunjuk untuk menjawab pertanyaan, untuk meyakinkan bahwa materi yang saya sampaikan mereka serap dengan baik.

Saya pilih beberapa siswa yang terlihat tidak memperhatikan. Pertama, seorang siswa muslim tapi tidak bisa menjawab dan kedua, seorang siswi nonmuslim menjawab pertanyaan saya dengan spontan tugas malaikat Ridwan, “menjaga pintu surga, Pa”. “bagus”, puji saya kepadanya. Kemudian ada siswi yang berbisik dengan nada lirih, dia nonmuslim pa, “hah, ko dia lebih tahu dari siswa muslim ya”. Saya kira memang muslim semua, ternyata ada yang nonmuslim juga toh. Seketika saya berikan pilihan pada siswi bersangkutan untuk mengikuti pelajaran agama Islam atau tidak (menunggu di luar atau ke perpustakaan). Jawabannya sungguh tak terduga, “Saya ikut belajar sama Bapa aja, Pa”.

Yah, apa mau dikata, selagi saya tidak memaksa dan itu kemauannya, tidak ada salahnya ia belajar agama Islam, meskipun ia nonmuslim. Namun sangat disayangkan kadangkala hak siswa yang nonmuslim untuk belajar agama yang diajarkan pendidik seagama sering kali dirampas secara halus. Ia rela haknya dirampas demi mendapatkan haknya untuk belajar.

Tak jarang nonmuslim yang belajar di sekolah berbasis Islam lebih banyak menjalankan nilai-nilai ajaran Islam dibanding ajaran agama yang dianutnya. Namun sekali lagi, pelajaran agama di sekolah hanya sekedar aspek kognitif bagi nonmuslim dan itu pun tidak ada paksaan. Jadi, tidak ada nonmuslim yang mengikuti praktik ibadah seperti siswa muslim lainnya. Justru ia berhak untuk mendapatkan pendidikan agama oleh tokoh agama yang seagama sesuai dengan UU Sisdiknas tersebut.

Tags:
author

Author: 

Prinsip yang selalu saya pegang, setiap orang mempunyai celah dan peluang untuk mengorbitkan dirinya sendiri, jika orbit yang kita telusuri jauh dari jati diri, maka mencari celah adalah jalan terbaik untuk mengorbitkan diri sendiri tanpa harus ikut orbit orang lain. Tak mesti menyaingi kecerdasan orang lain untuk bisa sejajar dengan orang-orang cerdas, cukup menjadikan kekurangan sebagai cerminan dan keunikan sebagai kelebihan yang tak dimiliki orang lain adalah sebuah kecerdasan yang tak semua orang punya.

Related Posts

Leave a Reply