Menyontek Kebiasaan Buruk yang Dianggap Biasa

Opini 0

Banyak dari kita yang sudah tidak asing lagi dengan kata menyontek. Mungkin kita yang membaca tulisan ini, pernah menyontek juga. Menyontek sudah menjadi hal yang biasa di kalangan pelajar bahkan mahasiswa. Entah siapa yang salah, guru yang kurang tegas dan ketat dalam mengawas atau siswa yang memang tidak menyiapkan sesuatu sehingga ia terpaksa untuk menyontek.

Memang sudah menjadi hal yang biasa setelah selesai melaksanakan ujian di sekolah, maka orang tua akan menanyakan mengenai peringkat, inilah yang membuat siswa hanya mengejar nilai, bukan kejujuran. Sungguh sangat miris pendidikan di negeri ini, mereka berlomba-lomba mengejar nilai sampai lupa dengan cara apa mereka menempuhnya.

Mungkin karena akhlak di negeri ini sudah tidak dinomorsatukan, terpenting mereka pintar tanpa harus berakhlak. Ini menjadi tugas bagi para guru untuk mendidik anak bukan hanya intelektualnya saja. Namun juga karakter harus diperhatikan.

Menyontek sudah dianggap biasa karena kurangnya teguran dari para guru. Sehingga siswa tidak merasa bersalah ketika menyontek lagi dan lagi. Padahal itu adalah perbuatan buruk yang terus dibiasakan yang akhirnya akan terbawa sampai ia dewasa bahkan di dunia kerja.

Menurut hemat saya, banyak mereka yang korupsi mungkin awalnya dari menyontek di bangku pendidikan. Alasannya karena sudah terbiasa melakukan hal yang curang, maka terbawa hingga ia dewasa dan bekerja. Bagaimana negeri ini akan maju jika hal curang semacam ini sudah dianggap biasa, sehingga menjadi kebiasaan yang buruk.

JIka Anda guru, apa yang akan diajarkan kepada para murid jika calon gurunya saja menyontek? Siapa yang salah di sini? Siswa yang terbiasa menyontek atau guru yang kurang tegas? Pendidikan akan maju jika siswa dan guru memenuhi 18 karakter yang dicanangkan oleh amanat undang-undang, salah satunya karakter jujur.

Ini menjadi tugas para guru agar memperbaiki dunia pendidikan agar menjadi lebih baik lagi. Hal yang lumrah memang dalam dunia pendidikan, bukan hanya siswa Sekolah Dasar, bahkan sampai tingkat pendidikan Sarjanapun tidak malu untuk menyontek. Ironis, padahal sesuatu yg buruk terlahir dari kebiasaan buruk. Meskipun hal kecil, ya seperti menyontek.

Menurut hemat saya, Indonesia tidak kekuarangan SDM yang pintar, tapi jelas sangat kekurangan SDM yang jujur. Tapi tidak ada kata terlambat. Kita, apapun profesinya, jangan mengabaika dan berhenti memberikan perhatian terhadap pendidikan di sekitar kita. Jika kita belum mampu mengajarkan kejujuran dalam semua konteks, maka kita bisa mengawali dari mulai diri kita sendiri.

Berat, ah tidak. Pembiasaan ini akan mendarahdaging ketika dilakukan dengan senang hati dan tanpa paksaan. Hal kecil yang harus kita lakukan adalah jangan memberikan kesempatan teman anda menyontek. Jika anda mahasiswa, jangan takut untuk mengerjakan sendiri (kecuali tugas kelompok).

Jika anda seorang pengajar, tegaslah dalam bertindak, karena jika guru tidak tegas, bagaimana bisa menegakkan karakter yang baik untuk siswa. Indah sekali jika suatu kelompok mengedepankan kejujuran, apalagi di sekolah.

Bayangkan satu kelas bersaing secara sehat. Pasti semua siswa akan mendapatkan yang terbaik untuk dirinya. Tanpa disadari menyontek itu saling memberikan gerbong ketidakjujuran. Karena modal utama hidup di masyarakat adalah kejujuran.

Mulailah melakukan kebiasaan-kebiasaan jujur untuk menumbuhkan karakter yang positif. Kebiasaan jujur akan mendatangkan hal-hal yang baik dalam kehidupan. Hukum alam di masyarakat yang berlaku adalah kejujuran mendatangkan kepercayaan. Jadi, kejujuran adalah modal utama dalam kehidupan bisa dikatakan benar, karena kejujuran menjadi karakter dasar yang harus dimiliki ditengah-tengah masyarakat.

Penulis: Eha Siti Julaeha
Editor: Toto Wijaksana

Tags:
Eha Siti Julaeha

Author: 

Mahasiswi Prodi PAI Semester V

Related Posts

Leave a Reply