Pemikiran Pendidikan dan Karya Hadratus Syaikh Hasyim Asy’ari

Artikel, Tokoh 1
Riwayat Hidup Hasyim Asy’ari
Hasyim Asy’ari adalah Hasyim Asy’ari bin Abdul Wahid bin Abdul Halim  (w. 1587 M)  yang bergelar Pangeran Benawa bin Abdurrahman  (w. 1582 M) yang bergelar Jaka Tingkir Sultan Hadi Wijaya bin Abdullah bin Abdul Aziz bin Abdul Fatah bin Maulana Ishaq (w. 1463 M) bapak dari Raden Ainul Yaqin yang terkenal dengan Sunan Giri Tebuireng  (w. 1506 M), Jombang.

Beliau dilahirkan di Desa Gedang, sebelah utara kota    Jombang, Jawa Timur pada hari selasa tangal 24 Dzulqa‟dah  1287 H  bertepatan dengan tanggal 14 Februari 1871 M. (Hadziq, tt: 3). Ditilik dari dua silsilah di atas, Kyai Hasyim mewakili dua trah sekaligus, aristrokrat atau bangsawan Jawa dan elit agama (Islam). Dari jalur ayah, mata rantai genetisnya bertemu langsung dengan bangsawan Muslim Jawa (Sultan Hadiwijaya atau Jaka Tingkir) dan sekaligus elit agama Jawa (Sunan Giri). Sementara dari jalur ibu, Kyai Hasyim masih keturunan langsung Raja Brawijaya VI (Lembu Peteng) yang berlatar belakang Hindu Jawa. (Zuhri, 2010: 68).

Zamakhsyari Dhofier, penulis buku “Tradisi Pesantren”, mencatat bahwa pesantren Tebuireng adalah sumber ulama dan pemimpin lembaga-lembaga pesantren di seluruh Jawa dan Madura. Tak heran bila para pengikutnya kemudian memberi gelar Hadratus-Syaikh (Tuan Guru Besar) kepada Kyai Hasyim. Beliau meninggal pada tanggal 7 Ramadhan 1366 H/25 Juli 1947 M di kediaman beliau Tebuireng, Jombang.

Pemikiran Hasyim Asy’ari tentang Pendidikan akhlak dalam Kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim
Salah satu karya monumental KH. Hasyim Asyari yang berbicara tentang pendidikan akhlak adalah kitab  Adab  al-Alim wa al-Muta’allim. Karakteristik pemikiran pendidikan akhlak Kyai Hasyim dalam kitab tersebut dapat digolongkan dalam corak praktis yang tetap berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Hadis. Kecenderungan lain dalam pemikiran beliau adalah mengetengahkan nilai-nilai etis yang bernafaskan sufistik. Kecenderungan ini dapat terbaca dalam gagasan-gagasannya, misalnya keutamaan menuntut ilmu. Menurut kyai Hasyim, ilmu dapat diraih hanya jika orang yang mencari ilmu itu suci dan bersih dari segala sifat-sifat jahat dan aspek keduniaan. (Hadziq, tt: 22).

Adapun pendidikan akhlak tersebut dijelaskan dalam kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim diantaranya: 

Akhlak seorang murid dalam pembelajaran

  • Membersihkan hati dari hal-hal yang kotor, bujukan-bujukan, prasangka jelek, dengki, jeleknya keyakinan dan akhlak yang jelek.
  • Memurnikan niat dalam mencari ilmu untuk menuju kepada Allah.
  • Bersegera dalam menghasilkan ilmu (mengunakan kesempatan waktu mudanya).
  • Bersabar dan qanaah terhadap segala macam pemberian dan cobaan.
  • Pandai mengatur waktu baik di waktu malam maupun siang yang tersisa dari umurnya.
  • Menyederhanakan makan dan minum.
  • Bersikap wirai dan hati-hati dalam segala perilaku.
  • Menyedikitkan makanan dan minuman yang dapat menyebabkan kemalasan dan dapat menyebabkan kelemahan.
  • Menyedikitkan waktu tidur selagi tidak merusak dan membahayakan kesehatan baik badan maupun hati.
  • Meninggalkan pergaulan yang kurang bermanfaat.

Akhlak seorang murid terhadap guru

  • Memilih seorang guru, dan meminta kepada Allah agar dipilihkan seorang guru yang darinya ia dapat memperoleh ilmu dan akhlak.
  • Bersunguh-sunguh dan yakin bahwa guru yang telah dipilih memiliki ilmu syariat dan dapat dipercaya.
  • Selalu mendengarkan dan memperhatikan apa yang telah dijelaskan guru.
  • Memandang guru dengan pandangan kemulyaan, keagungan dan meyakini bahwa gurunya memiliki derajat yang sempurna.
  • Mengetahui apa yang menjadi hak-hak guru, tidak melupakan keutamaanya, dan senantiasa mendoakannya semasa hidup maupun setelah wafatnya.
  • Bersabar terhadap kekerasan guru.
  • Tidak mengunjungi guru pada tempatnya kecuali mendapakan izin darinya, baik guru dalam keadaan sendiri maupun dengan orang lain.
  • Duduk dengan rapi dan sopan apabila berhadapan dengan guru.
  • Berbicara dengan sopan dan lemah lembut saat bersamanya.
  • Mendengarkan segala fatwanya.
  • Jangan menyela ketika guru sedang menjelaskan atau sedang menjawab sebuah pertanyaan.
  • Menggunakan anggota badan yang kanan apabila menyerahkan sesuatu kepadanya.

Akhlak seorang murid terhadap pelajarannya dan hal-hal yang harus dipedomani bersama guru

  • Memulai belajar ilmu yang bersifat fardhu ‘ain.
  • Mempelajari ilmu-ilmu yang mendukung fardhu ‘ain.
  • Mendiskusikan dan berhati-hati dalam menanggapi ikhtilaf para ulama.
  • Mentashihkan apa yang telah  dibaca sebelum dihafalkan, baik dengan guru maupun dengan orang lain yang ia yakini.
  • Berpagi-pagi dalam mempelajari ilmu.
  • Ketika  menjelaskan pelajaran dengan diringkas dan senantiasa mengulang-ulang pelajaran secara kontinuitas.
  • Berteman dengan orang yang lebih tinggi (pintar), dan bacakanlah ilmu padanya supaya ia menyimaknya  jika memungkinkan.
  • Ucapkanlah salam ketika sampai di majelis ilmu (sekolah /madrasah).
  • Menanyakan hal-hal yang belum dipahami.
  • Menunggu giliran (dalam metode sorogan) dan jangan mendahului teman yang lain apabila belum mendapatkan ijin.
  • Membacakan pelajaran dihadapan guru dan menetapi sikap sopan santun.
  • Mempelajari kembali pelajaran yang telah diajarkan secara kontinuitas.
  • Menanamkan semangat untuk meraih sukses dalam belajar.

Akhlak yang harus diperhatikan oleh guru

  • Senantiasa mendekatkan diri kepada Allah, biak ketika dalam keadaan samar maupun nyata.
  • Senantiasa takut kepada Allah dalam segala keadaan gerak, diam, ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan.
  • Senantiasa bersikap tenang.
  • Senantiasa bersikap  wira’i. Wira’i  adalah berhati-hati dalam melakukan hukum, menghindari barang subhat, takut mendekati haram. (Samarqandi, 2009: 526).
  • Senantiasa bersikap  tawadhu’. Tawadhu adalah tidak memandang pada diri sendiri lebih dari orang lainnya, bahkan memandangnya sama-sama, dan tidak menonjolkan diri. (Masy’ari, 2008: 66).
  • Senantiasa bersikap khusyu. Khusyu adalah dengan kerendahan hati atau dengan sungguh-sungguh. (Suharso, 2011: 291).
  • Mengadukan segala permasalahannya kepada Allah.
  • Tidak menggunakan ilmunya untuk meraih keduniawiaan semata.
  • Tidak selalu memanjakan murid.
  • Berprilaku zuhud dalam kehidupan dunia. Zuhud adalah menggunakan segala sesuatu yang tersedia baik berupa benda maupun tenaga dan lain-lain menurut keperluan dan tidak berlebihan. (Masy‟ari, 2008: 47).
  • Berusaha menghindari hal-hal yang rendah dan hina.
  • Menghindari tempat-tempat kotor dan maksiat.
  • Menjaga untuk tetap didalam syi’ar islam
  • Senantiasa mengamalkan sunnah Nabi.
  • Senantiasa membaca al-Qur’an, dan berdzikir kepada Allah dengan hati dan lisan.
  • Bersikap ramah, ceria dan suka menebar salam kepada manusia.
  • Membersihkan diri dari perbuatan-perbuatan yang rendah dan tidak disukai Allah.
  • Menumbuhkan semangat dalam menambah ilmu dan amal.
  • Tidak menyalah gunakan ilmu serta tidak menyombongkannya.
  • Membiasakan diri untuk menulis.

Akhlak Guru dalam Pembelajaran 

  • Mensucikan diri dari hadas dan kotoran.
  • Berpakian sopan dan rapi diusahakan berbau wangi.
  • Niat beribadah kepada Allah ketika mengajarkan ilmu kepada murid.
  • Sampaikan hal-hal yang diajarkan oleh Allah.
  • Membiasakan untuk menambah ilmu.
  • Mendahulukan dalam belajar untuk berdo’a dan mendo’akan para ahli ilmu yang telah meninggal.
  • Mengucapkan salam kepada para murid ketika datang dalam majelis (madrasah/sekolah).
  • Jangan bergurau dan banyak tertawa.
  • Jangan mengajar dalam keadaan lapar, marah, ngantuk dan sebagainya.
  • Waktu mengajar mengambil tempat yang setrategis.
  • Sampaikan dengan ramah, tegas, lugas dan tidak sombong.
  • Mendahulukan materi-materi yang penting dan profesional.
  • Perhatikan kemampuan masing-masing murid.
  • Menciptakan suasanan yang kondusif.
  • Tidak mengeraskan suara dengan lantang tanpa adanya suatu kebutuhan.
  • Bersikap terbuka terhadap pertanyaan yang tidak diketahui.
  • Mengulangi kembali pelajaran jika ada anak yang ketinggalan.
  • Memberi kesempatan pada anak-anak untuk menanyakan hal-hal yang belum dipahami.
  • Akhlak Bagi Guru Bersama Murid
  • Berniat untuk belajar dan mengajar karena Allah.
  • Berniat untuk menyebarkan ilmu dan menghidupkan syariat Islam.
  • Senantiasa mencintai muridnya seperti halnya mencintai pribadinya.
  • Tepat dalam menggunakan metode dalam mendidik anak.
  • Memotivasi murid.
  • Memberikan latihan-latihan yang bersifat membantu.
  • Selalu memperhatikan kemampuan murid.
  • Tidak pilih kasih.
  • Mengarahkan minat murid.
  • Bersikap terbuka dan sabar.
  • Cinta kasih terhadap yang hadir, dan mencari kabar apabila ada murid yang tidak hadir.
  • Membantu memecahkan masalah.
  • Menasehati murid-murid dengan keutamaan
  • Bersikap arif, bijaksana dan tawadhu terhadap orang yang meminta petunjuk.
  • Akhlak Menggunakan Kitab dan Alat yang Digunakan dalam Belajar
  • Menganjurkan dan mengusahakan agar memiliki buku pelajaran yang diajarkan, apabila tidak mampu utuk membeli, hendaknya dapat menyewa atau meminjam kepada temannya.
  • Merelakan, mengijinkan bila ada kawan meminjam buku pelajaran, sebaliknya bagi peminjam harus menjaga barang tersebut, mengembalikan dan berterima kasih.
  • Meletakkan buku pada tempat yang terhormat, dengan memperhitungkan keagunggan kitab dan ketinggian keilmuan penyusunnya. Menurut beliau, urutan yang pertama adalah al-Qur’an, disusul Hadis, Tafsir al-Qur’an, Tafsir Hadis, kemudian disusul dengan kitab-kitab yang lain.
  • Periksa terlebih dahulu apabila membeli atau meminjam buku, lihat bagian awal, tengah dan akhir buku.
  • Bila menyalin buku pelajaran syariah, hendaknya dalam keadaan suci, kemudian diawali dengan basmalah, sedang menyalinnya mulailah dengan hamdalah dan Shalawat Nabi.

Demikianlah pemaparan KH. Hasyim Asy’ari dalam kitab Adab al-Alim wa al-Muta’allim  mengenai pendidikan akhlak yang menitik beratkan pada segi jasmani dan rohani yang harus dimiliki oleh setiap guru dan pelajar agar nantinya pencapaian sebuah  ilmu yang diharapakan lebih memberikan kemanfaatan.

Karya-karya Hasyim Asy’ari
Pada zamannya, tepatnya sejak permulaan tahun 1990-an hingga paruh terakhir 1940-an, Kyai Hasyim termasuk salah satu intelektual Muslim Jawa yang cukup produktif. Beberapa karya dari berbagai disiplin kajian Islam berhasil diselesaikan. Karya-karya tersebut ditulis dengan menggunakan bahasa Arab dan bahsa Jawa. Mengenai data jumlah karya tulis yang berhasil diselesaikan Kyai Hasyim, mengacu pada data koleksi perpustakaan Pesantren Tebuireng dan situs resmi pondok pesantren tersebut. Selain itu, data dan jumlah karya beliau juga mengacu kumpulan karangan Kyai Hasyim yang diedit oleh Ishamuddin Hadziq. (Zuhri, 2010:85). Adapun karya-karya beliau adalah sebagai berikut.

  1. Adab al-Alim wa al-Muta’allim, Menjelaskan tentang akhlak seorang murid yang menuntut ilmu dan akhlak guru dalam menyampaikan ilmu. Kitab ini selesai ditulis pada hari Minggu, tanggal 22 Jumadi Tsani tahun 1342 H/1924 M.
  2. Ziyadah Ta’liqat, Berisi tentang penjelasan atau jawaban terhadap kritikan KH. Abdullah bin Yasin al-Fasuruwani yang mempertanyakan pendapat Kyai Hasyim memperbolehkan, bahkan menganjurkan  perempuan mengenyam pendidikan. Pendapat Kyai Hasyim tersebut banyak disetujui oleh ulama-ulama saat ini, kecuali KH. Abdullah bin Yasin al-Fasuruwani yang mengkritik pendapat tersebut.
  3. Al-Tanbihat al-Wajibah Liman Yasna’ al-Maulid bi al-Munkarat, Berisi tentang nasehat-nasehat penting bagi orang-orang yang merayakan hari kelahiran Nabi dengan cara-cara yang dilarang oleh agama. 
  4. Risalah Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah fi Hadith al-Mawta wa Ashrat al-Sa’ah wa Byan Mafhum al-Sunnah wa al-Bid’ah, Membahas tentang beragam topik seperti kematian, tanda-tanda hari kiamat, hari pembalasan, arti sunnah dan bid’ah, dan sebagainya.
  5. An-Nur al-Mubin fi Mahabbati Sayyidi al-Mursalin, Dalam kitab ini beliau menguraikan dasar kewajiban Muslim untuk beriman, mentaati, meneladani,  dan mencintai Nabi Muhammad SAW. selain memuat biografi singkat Nabi SAW. mulai lahir hingga wafat, dan menjelaskan mu’jizat shalawat Nabi, Kyai Hasyim juga memberikan pembelaan terhadap praktek-praktek ziarah, tawasul, serta syafaat. Kitab ini beliau selesaikan pada tanggal 25 Sya’ban 1346 H/1927 M.
  6. Khasyah ‘Ala Fathurrahman Bisyarhi Risalatul Wali, Kitab ini merupakan komentar terhadap kitab  al-Risalah al-Wali Ruslan karya Syeikh al-Islam Zakaria al-Anshari.
  7. Al-Durar al-Munqatirah fi al-Masa’il Tis’a ‘Asyara  (mutiara-mutiara berharga tentang masalah-masalah sembilan belas), Berisi uraian tentang tareqat dan persoalan-persoalan penting untuk tareqat. Menjelaskan tata cara mengamalkan agama yang benar dan koreksi terhadap pandangan-pandangan yang keliru.
  8. Al-Tibyan  fi Nahyi ‘An Munqatha’ati al-Arham wa al-‘Aqarib wa al-Ikhwan, Dalam kitab ini beliau menjelaskan tentang pentingnya menjaga silaturrahmi, bahaya dan larangan memutuskannya. Dalam membangun wilayah interaksi sosial, kitab ini merupakan salah satu bentuk kepedulian Kyai Hasyim dalam masalah  Ukhuwah Islamiyah. Kitab ini diselesaikan pada hari senin, 20 Syawal 1360 H/1940 M.
  9. Al-Risalah al-Tauhidiyah (catatan teologi), Merupakan pembahasan terhadap teologi Ahlussunnah wal Jama’ah.
  10. Al-Qalaid  fi Bayani Ma Yujibu Min al-Aqa’id, Memuat syair-syair yang berkaitan dengan apa yang seharusnya dipahami tentang akidah.
  11. Muqaddimat al-Qanun al-Asasi li Jam’iyat Nahdat al-‘Ulama, Risalah tersebut memuat ayat-ayat al-Qur’an dan beberapa hadis yang menjadi basisi legitimasi organisasi Nahdatul Ulama.
  12. Arba’in Hadithan Tata’allaq bi Mabadi’ Jam’iyat Nahdat al-‘Ulama’, Risalah ini merupakan kondifikasi 40 Hadis Nabi yang menjadi basis legitimasi dan dasar-dasar pembentukan organisasi Nahdatul Ulama.
  13. Risalah fi Ta’kid al-Akhdh bi Ahad al-Madahib al-Aimmah al-Arba’ah, Risalah ini lebih menitik beratkan pada uraian mengenai arti penting bermadzhab dalam fiqih, berpegangan kepada salah satu diantara empat madzhab yang ada.
  14. Dhaw’ al-Misbah fi Bayan Ahkam al-Nikah, Kitab ini mengulas tentang prosedur pernikahan secara syar’i, yang meliputi hukum-hukum, syarat, rukun, dan hak-hak dalam perkawinan. Selain berbagai karya tulis di atas, Kyai Hasyim sebenarnya juga berhasil menuangkan gagasan-gagasan kreatifnya. Namun, sayangnya belum sempat terpublikasikan dan masih berupa manuskrip. Termasuk manuskrip yang ditemukan, diantaranya: (1) Al-Risalah al-Jama’ah  (risalah tentang jamaah). (2) al-Jasus fi Ahkam al-Nuqus, dan (3) Manasik Sughra  (Tata Cara Perjalanan Ibadah Haji). (Zuhri, 2010: 85-91).

Pustaka:
Al-Ghazali, Muhammad. 2008. Khulukul Qur’an. Terjemah oleh Anwar, Masy’ari. Surabaya: PT. Bina Ilmu.
Hadziq, Muhammad Ishom. Tt.  Adab al-Alim wa al-Muta‟allim.  Jombang: Maktabah At-Turats Al-Islamy.
Samarqandi, Abu Laits.  2009. Tanbihul Ghafilin. Terjemah oleh  Abu Imam Taqiyuddin. Surabaya: Mutiara Ilmu.
Semarang: Widya Karya.
Suharso dan Ana Retroningsih. 2011. Kamus Bahasa Indonesia Lengkap.
Zuhri, Achmad Muhibbin. 2010. Pemikirikan KH. M. Hasyim Asy’ari Tentang Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah. Surabaya: Khalista.

author

Author: 

Prinsip yang selalu saya pegang, setiap orang mempunyai celah dan peluang untuk mengorbitkan dirinya sendiri, jika orbit yang kita telusuri jauh dari jati diri, maka mencari celah adalah jalan terbaik untuk mengorbitkan diri sendiri tanpa harus ikut orbit orang lain. Tak mesti menyaingi kecerdasan orang lain untuk bisa sejajar dengan orang-orang cerdas, cukup menjadikan kekurangan sebagai cerminan dan keunikan sebagai kelebihan yang tak dimiliki orang lain adalah sebuah kecerdasan yang tak semua orang punya.

Related Posts

One Response

  1. Reformasi Pendidikan Ala KH. Wahid Hasyim – CeteLogiFebruary 11, 2017 at 01:20Reply

    […] Wahid Hasyim selain ‎sebagai salah satu ulama dan putra ulama al-maghfurlah hadratus ‎syaikh KH. Hasyim Asy’ari serta kecintaanya dalam dunia ‎pendidikan, beliau juga dikenal sebagai seorang tradisionalis […]

Leave a Reply