Themes WordPress Premium

Pendidikan Agama di Indonesia

Artikel 0
Secara kultural, pendidikan pada umumnya berada dalam lingkup peran, fungsi dan tujuan yang tidak berbeda. Semuanya hidup dalam upaya yang bermaksud mengangkat dan menegakkan martabat manusia melalui transmisi yang dimilikinya, terutama dalam bentuk transfer of knowledge dan transfer of values.

Chalidjah Hasan (1995) berpendapat dunia pendidikan islam dan pendidikan pada umumnya, kadang-kadang memang mempunyai persamaan dan kadang-kadang juga memiliki perbedaan.
Persamaan akan timbul karena sama-sama berangkat dari dua arah pendidikan yakni dari diri manusia sendiri yang memang fitrahnya untuk melakukan proses pendidikan,
kemudian dari budaya yakni masyarakat yang memang menginginkan usaha warisan nilai, maka semuanya memerlukan pendidikan.

Mengenai pendidikan agama itu sendiri (Islam) pada dasarnya cukup mewarnai perjalanan bangsa Indonesia, apalagi bila dilihat dari dimensi historis. Sebelum pemerintah kolonial Belanda memperkenalkan sistem pendidikan Barat yang sekuler, diketahui bahwa pesantren merupakan satu-satunya lembaga pendidikan formal yang ada di Indonesia, dan hal ini berlangsung berabad-abad lamanya.

Karena itu ada perjalanan dan perkembangan berikutnya pendidikan agama tidak dapat dipisahkan dari kehidupan bangsa Indonesia yang mayoritas penduduknya beragama Islam, kendatipun dalam operasionalnya senantiasa mengalami pasang surut dengan segala dinamikanya. Namun yang jelas pendidikan agama merupakan mata pelajaran pokok atau wajib dari satuan pendidikan yang diajarkan mulai dari sekolah dasar sampai dengan perguruan tinggi.

Pendidikan nasional mengalahkan potensi individu secara menyeluruh dan tepadu untuk mewujudkan insan yang seimbang dan harmonis dari segi intelektual, rohani dan iman, berdasarkan kepada kepercayaan dan kepatuhan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Memang adanya penekanan dibidang pembentukan manusia seutuhnya baik jasmani maupun rohani dalam sistem pendidikan nasional merupakan ciri pendidikan Islam.

UU Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Pasal 12 ayat (1) menyebutkan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak (bagian) a. mendapatkan pendidikan agama sesuai dengan agama yang dianutnya dan diajarkan oleh pendidik yang seagama. Selain itu, Pasal 36 ayat (3) menyebutkan bahwa kurikulum disusun sesuai dengan jenjang pendidikan dalam kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan:
(a) peningkatan iman dan takwa;
(b) peningkatan akhlak mulia;
(c) peningkatan potensi, kecerdasan dan minat peserta didik;
(d) keragaman potensi daerah dan lingkungan;
(e) tuntutan pembangunan daerah dan nasional;
(f) tuntutan dunia kerja;
(g) perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni;
(h) agama;
(i) dinamika perkembangan global; dan
(j) persatuan nasional dan nilai-nilai kebangsaan.

Dari sepuluh aspek yang harus diperhatikan, agama menempati tiga posisi yaitu bagian a, b, dan h, sebagai penekanan bahwa agama menjadi pondasi hidup berbangsa dan bernegara. Karena itu, dalam kurikulum pendidikan, pendidikan keagamaan merupakan bagian terpadu yang dimuat dalam kurikulum pendidikan maupun yang melekat pada setiap mata pelajaran sebagai bagian dari pendidikan nilai. Oleh sebab itu, nilai-nilai agama akan selalu memberikan corak dan warna pada pendidikan nasional di Indonesia.

Tags:
Rate this article!
author

Author: 

Prinsip yang selalu saya pegang, setiap orang mempunyai celah dan peluang untuk mengorbitkan dirinya sendiri, jika orbit yang kita telusuri jauh dari jati diri, maka mencari celah adalah jalan terbaik untuk mengorbitkan diri sendiri tanpa harus ikut orbit orang lain. Tak mesti menyaingi kecerdasan orang lain untuk bisa sejajar dengan orang-orang cerdas, cukup menjadikan kekurangan sebagai cerminan dan keunikan sebagai kelebihan yang tak dimiliki orang lain adalah sebuah kecerdasan yang tak semua orang punya.

Related Posts

Leave a Reply