Peran Ibu dan Calon Ibu Generasi Milenial di Era Digital

Opini 0

Kemajuan teknologi semakin menjadi-jadi dan tidak bisa dihindari. Informasi berputar silih berganti. Setiap detik waktu berdetak kemajuan semakin terasa diujung mata. Hanya orang yang menutup diri saja yang acuh mengabaikannya.

Era digital adalah era kemajuan digitalisasi disegala bidang. salah satu bidang didalamnya adalah pendidikan. Teknologi pendidikan mempunyai peran penting dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Langkah Kemdikbud meng-online-kan pendataan sekolah adalah sebuah langkah yang sangat tepat untuk mengumpulkan data sekolah seluruh Indonesia.

Dibalik segala progres yang telah dialami itu semua, ada peranan keluarga dan lingkungan sekitar yang menjadi faktor penentu kemajuan pendidikan. Keluarga, terutama ibu, mempunyai peranan yang sangat penting dalam pendidikan anak. Ibu adalah madrasah pertama bagi anak. Ibulah yang mengajarkan sesuatu kepada anak dari awal ia lahir ke dunia.

Kemajuan pendidikan di Indonesia akan semakin kuat dengan dasar pendidikan keluarga yang kokoh. Peran ibu sangat strategis dalam hal ini. Bagi penulis, ibu merupakan faktor penentu pengokohan pondasi pendidikan dasar anak.

Bagaimana dengan calon ibu? calon ibu pun mempunyai kesempatan yang sangat besar untuk membentuk karakter anak yang sistematis. Mengingat calon ibu bisa mempelajari jauh-jauh hari sebelum menjadi ibu yang sebenarnya, baik dari sisi biologis maupun psikologis.

Peran ibu dan calon ibu di era digital tidak bisa dilepaskan dari perkembangan teknologi. Ibu dan calon ibu harus banyak mempelajari perkembangan teknologi agar bisa mengimbangi perkembangan psikologis anak. Bagaimana kemudian jika anak hanya diberi asupan pertumbuhannya saja, tetapi perkembangannya terlupakan. Faktor lingkungan pun bisa menjadi faktor penentu kemana arah karakter anak akan berlabuh.

Coba saja perhatikan perkembangan psikologis generasi milenial yang kecanduan dengan game online. Apakah ibu dan calon ibu yakin secara psikologis anak baik-baik saja? tentu tidak. Ini pun menjadi kekhawatiran keluarga yang kurang bisa mengawasi anaknya karena tidak begitu paham tentang perkembangan teknologi. Bahkan lebih parah dari itu, anak kadang jauh lebih mengarti dibanding orang tuanya dalam hal sepele sekali pun.

Kemdikbud mengungkapkan 4 kompetensi yang harus dimiliki sumber daya manusia di Indonesia untuk menghadapi Masyarakat Ekonomi Asean (MEA) dan era digital:

  1. Pemikiran Kritis dan Pemecahan Masalah
  2. Kreativitas
  3. Keterampilan Komunikasi
  4. Kemampuan Bekerja secara Kolaboratif

Keempat kompetensi tersebut merupakan tolok ukur sumber daya manusia yang mempunyai daya saing bertaraf internasional. Jangan aneh jika banyak tenaga asing yang bekerja di Indonesia, itu bukan karena pemerintah Indonesia kongkalikong dengan pemerintah bersangkutan. Tetapi jauh lebih memperihatinkan daripada itu adalah sumber daya manusia di Indonesia belum mampu untuk melakukannya.

Contoh kecil, Jakarta belakangan sedang membangun kereta cepat. Mengapa harus mempekerjakan orang asing? mengapa tidak mempekerjakan orang Indonesia saja? Alasan logisnya adalah sumber daya manusia di Indonesia belum mampu untuk melakukan itu. Daya saing SDMnya masih rendah dibanding negara-negara di Asia bahkan di ASEAN. Kebalikan dari itu, banyak orang-orang Indonesia yang dipekerjakan di luar negeri sebagai tenaga ahli disuatu bidang. Inilah yang dimaksud daya saing taraf internasional.

Di era digital semuanya dituntut untuk mengubah pola pikir ke arah kemudahan dan efesiensi segala hal. Kemudahan itu tidak semata semua lepas dari kontrol orang tua sebagai pemberi kewenangan kepada anak untuk bisa berekspresi di zamannya. Berikut peran ibu dan calon ibu dalam pendidikan anak di era digital:

  1. sebagai pelajar, mempelajari perkembangan teknologi yang sangat pesat.
  2. sebagai benteng, ibu harus membentengi anak dari asupan gizi buruk dan efek negatif perkembangan teknologi.
  3. sebagai suri tauladan, kemampuan ibu memberikan keteladanan kepada anak dalam kebaikan apapun.
  4. sebagai pengawas, ibu mengawasi anak dari hal-hal yang menyimpang dari perkembangan psikologisnya.
  5. sebagai guru, ibu harus memberikan edukasi kepada anak agar mereka mempunyai pendidikan yang lebih intensif di luar pendidikan di sekolah.
  6. sebagai pembimbing, ibu harus memberikan pemahaman dan pencegahan kepada anak sehingga mereka paham sesuatu dan mencegah mereka jika melakukan hal-hal yang menyimpang baik segi agama maupun sosial.

Era digital tidak bisa dipungkiri. Era digital harus dipelajari. Jadilah ibu dan calon ibu yang tangguh menghadapi generasi milenial di era digital.

#SelamatHariIbu

Tags:

Related Posts

Leave a Reply