Themes WordPress Premium

Problematik dan Prospek Lulusan Pendidikan Agama Islam

Opini 0

Sejak berdirinya PTAI sekitar tahun 1960-an telah menjadi awal Perguruan Tinggi berbasis Islam dibawah naungan Kementerian Agama ikut menentukan arah dan kemajuan bangsa Indonesia. Meskipun secara historis, pendidikan Islam sudah ada sejak penjajahan Belanda atau sekitar 1914 yang digawangi oleh organisasai terbesar kedua di Indonesia, yaitu Muhammadiyah.

Menag dalam pidatonya di Auditorium HM Rasjidi Gedung Kemenag, Jakarta, Rabu (01/02) mengucapkan tentang 8 PTAIN yang masuk 100 besar Perguruan Tinggi di Indonesia. “Delapan PTKIN tersebut adalah UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang menempati ranking 34, UIN Sunan Ampel Surabaya ranking 44, UIN Maliki Malang ranking 54, UIN SUSKA Riau ranking ke 69, UIN Sunan Gunung Djati Bandung ranking 70, UIN Walisongo Semarang ranking 71, IAIN Banjarmasin ranking 79, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ranking 94.” (Kemenag: 2017).

Di Indonesia, sebagian besar PAI menjadi cikal bakal berdirinya PTAI, pun dijenjang S-2 dan S-3. PAI selalu menjadi jurusan pertama yang dibuka. Kuantitasnya selalu di atas dari jurusan lain, bahkan bisa dikatakan jurusan terlaris di PTAI. Entah itu karena dianggap paling mudah atau memang calon mahasiswanya terlalu bingung menentukan pilihan. Faktanya setelah setengah perjalanan mereka sering kehilangan arah dan menganggap bahwa mereka telah keliru menentukan pilihan.

Pesatnya perkembangan PTAI dewasa ini, membuat berbagai institusi berlomba-lomba menjadi yang terbaik. Kemenag merilis grafik jumlah PTAI/N (Diktis: 2017), PTAI/N di bawah naungan Kementerian Agama kini berjumlah sekitar 55 PTAIN dan 631 PTAI, dengan rincian 11 UIN, 31 IAIN dan 13 STAIN. Jika setiap PTAIN memiliki 4 kelas PAI dengan jumlah masing-masing 35 mahasiswa, maka 56 x (4×35)= 7.700. Itu artinya setiap tahun PTAI melahirkan 7.700 calon guru PAI. Ini PTAI yang berstatus Negeri, belum termasuk PTAI yang berstatus swasta dan PTU yang membuka Program Studi PAI. PTAI saat ini berjumlah 96 Universitas, 38 IAI dan 497 Sekolah Tinggi. Bisa dibayangkan jumlahnya berapa kali lipat.

Problematik
Sebenarnya PAI adalah program studi yang paling fleksibel di masyarakat. Bidang pendidikan, agama maupun kemasyarakatan hampir semua dipelajari. Namun jika ditinjau dari segi peluang dunia kerja sangat memperihatinkan. Kadang lulusannya sering diragukan, bahkan Kementerian Agama sekalipun. Ini problematik yang pertama, Lulusan PAI bukan untuk tuntutan dunia kerja, dan itu harus diketahui bersama. Mengapa bukan tuntutan? karena lulusan PAI didedikasikan untuk kepentingan masyarakat luas, tidak dikomersilkan. Adapun jika demikian itu lain cerita.

Di sini perlu kita bedakan antara bekerja dan mengabdi. Bekerja adalah kegiatan melakukan sesuatu, cenderung untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah. Sedangkan mengabdi adalah kegiatan melalukan sesuatu namun tidak cenderung dengan pengharapan besar mengumpulkan pundi rupiah. Karena sampai kapanpun tidak akan pernah menggunung. Menjadi guru itu bukan pekerjaan, tapi pengabdian. Besar atau kecil rupiah yang didapat tak akan pernah ternilai jika dibanding sebuah keringat pengabdian yang selalu didedikasikan.

Problem yang kedua, guru PAI di sekolah, kadangkala didominasi oleh guru yang sudah sepuh. Ini masalah Pendidikan Agama, jika salah mengajarkan, pertanggung jawabannya berat. Alasan yang masuk akal juga. Tetapi kita harus ingat bahwa zaman secara otomatis terus meng-upgrade, sehingga proses pembelajaran dan perkembangan pendidikan pun harus disesuaikan dengan zamannya. Submasalah yang ada, justru banyak guru sepuh yang kekeh dengan cara mengajarnya yang kolot, monoton dan tak mengasyikkan. Ini menjadi tantangan bagi guru muda, agar menjadi guru idaman dan bisa menjadi sahabat bagi murid. Hal yang penting bisa membina, mendidik dan membimbing murid ke arah yang lebih baik dengan langkah yang keluar dari ‘mainstream’.

Problem ketiga, guru muda lulusan Pendidikan Agama Islam, kurang diberi ruang untuk bermanuver. Menjalankan inovasi dan ide-ide ‘gila’, namun sayang sering kali tidak mendapatkan kesempatan untuk menunjukkan jiwa muda mereka, karena merasa tak enak terhadap ‘guru sepuh’. Bermanuver berarti melangkahi. Ini pernyataan konyol, sekaligus menunda kemajuan.

Problem keempat, muara lulusannya samar-samar. Meskipun mendapat jatah di Kemenag sebagai guru MI, MTs atau MA, tetapi tidak semua terserap dengan baik. Tak jarang banyak yang banting setir karena kurang terjamin.

Prospek
Pertama, prospek lulusan PAI di masyarakat mendapat tempat yang sangat baik, jika mereka benar-benar seperti harapan masyarakat. Misalnya dalam bidang keagamaan: menjadi pemeran dalam berbagai kegiatan keagamaan, menjadi generasi penerus dan ikut serta aktif menjalankan program keagamaan. Dalam bidang pendidikan, memberdayakan anak-anak atau orang tua untuk mengaji dan menjadi guru honorer di sekolah terdekat.

Kedua, meskipun muara dan peluang kerja lulusan PAI sempit, tetapi di dunia kerja mereka bisa menjadi bagian dari Kemenag atau Kemendikbud. Itu jika ingin tetap pada lingkaran linear. Tetapi banyak dunia usaha yang bisa menerima bukan karena selembar kertas, kemampuan skill yang tinggi misalnya. Tak ayal jika memang banyak yang banting setir karena mereka mempunyai skill di luar penguasaannya di bidang Pendidikan Agama, misalnya kemampuan komputer, komunikasi, manajerial dan lain sebagainya

Ketiga, jika memang dari awal diseting untuk tidak menjadi pekerja atau apalah itu. Ini prospek yang sangat bagus, yaitu menjadi dosen/praktisi dengan melanjutkan studi ke jenjang yang lebih tinggi. Catatan yang harus diingat, jangan berharap menjadi siapa, tapi jadilah orang yang bisa memberikan apa.

Alternatif
Kemampuan skill memang tidak bisa dipungkiri menjadi kunci kesuksesan nomor sekian. Skill yang mumpuni dibidang apapun itu, bisa menjadi alternatif membuka usaha, disamping mengabdi sebagai abdi negara. Ada dua keuntungan yang didapatkan, pertama mengabdi dengan setulus hati, kedua berwirausaha sebagai jalan alternatif mencapai tujuan materiil.

Tags:
author

Author: 

Prinsip yang selalu saya pegang, setiap orang mempunyai celah dan peluang untuk mengorbitkan dirinya sendiri, jika orbit yang kita telusuri jauh dari jati diri, maka mencari celah adalah jalan terbaik untuk mengorbitkan diri sendiri tanpa harus ikut orbit orang lain. Tak mesti menyaingi kecerdasan orang lain untuk bisa sejajar dengan orang-orang cerdas, cukup menjadikan kekurangan sebagai cerminan dan keunikan sebagai kelebihan yang tak dimiliki orang lain adalah sebuah kecerdasan yang tak semua orang punya.

Related Posts

Leave a Reply