Pulang Karena Rindu, Tak Pulang Karena Mencari Ilmu

Narasi 4

Pagi, pukul 08.20 ponselku berdering memecahkan keheningan. Aku yang terburu-buru segera mengangkat telepon dari Wali Kelasku semasa di SMP dulu. Dengan suara lembut khasnya, Bu Euis, begitu aku memanggilnya, memulai percakapan.

“Sedang ada dimana To?”, tanyanya.

“Di rumah bu, mau ke Polsek” timpalku.

“Kemarin nanya kekosongan guru di sekolah kan?”, tanyanya lagi.

“Iya, bu.” jawabku.

“Kalau bisa sebelum pukul 09.00 ke sekolah, ada yang mau ibu bicarakan, penting”, tagasnya.

Aku yang bersiap menuju ke Polsek pun langsung menyanggupi permintaannya tanpa alasan apapun.

Tempo hari aku memang pernah bertanya padanya tentang kekosongan guru di SMP Negeri 1 Tambakdahan, mungkin beliau masih terngiang dengan pertanyaanku dulu.

Setelah 15 menit berlalu, tibalah aku di sekolah dimana aku ditempa dulu. Dari segi bangunan tidak jauh berbeda seperti tahun 2007 silam. Bedanya hanya lebih rindang, hijau dan asri. Begitupun guru-guru yang ku jumpai, mungkin setengah dari mereka adalah guru-guru baru yang semasa dulu aku sekolah belum mengajar. Aku adalah produk terakhir dari SMP Negeri 2 Binong 2007, karena 2008 seiring pemekaran kecamatan, berganti pula nama sekolahnya menjadi SMP Negeri 1 Tambakdahan.

Tak lama menunggu, Bu Euis pun menghampiri dan menanyakan kabar. Aku pun dikenalkan dengan Waka Kurikulum, Pak Abas. Tanpa basa-basi, pernyataan keduanya membuat dada ini terasa pengap dihimpit pilihan yang berat.

“Sementara Pak Toto mengisi kekosongan 10 jam”, ucap Pak Abas sembari menunjukkan jadwal pelajaran.

“Alhamdulillah”, aku ucap syukur dalam hati, karena jam yang aku ampu tidak banyak.

Mengingat saat ini memang sedang disibukan dengan berbagai aktivitas, kuliah, mengajar dan bekerja. Mengabdi di almamater sendiri  merupakan kebanggaan yang tak terhingga.

Entah semalam mimpi apa? Tiba-tiba angin segar menyejukkan menyapu dahi hingga ku kerutkan tanda heran tak berkesudahan. Bak ibarat anak rantau, setelah 12 tahun di negeri orang, kini kembali lagi ke rumah kesayangan. Rasa bangga menyelimuti hati. Bersua, belajar dan berdiskusi bersama guru-guru terkasih. Rasa canggung sudah pasti ada, tapi ku coba hilangkan itu semua ketika siswa menghampiri.

Sekolah yang dulu hanya ku lewati menuju tempat kerja, kini bukan hanya dihampiri, tetapi juga berinteraksi dan bercengkrama dengan hangat.

Secara lahiriah aku memang guru, tetapi secara batiniah aku masih murid dari guru-guruku di sekolah ini.

Sebelum kejadian ini, Agustus 2018 lalu aku dan Bu Euis dipertemukan dalam suatu acara literasi di Bandung. Sejak itulah kita banyak bercerita tentang pengalaman dan proses yang kita lalui selama 12 tahun tidak bertemu. Termasuk di dalamnya aku sesekali bernostalgia, menanyakan kabar sekolah yang kini sudah jauh lebih maju.

Di sekolah ini, aku pernah menjadi siswa, alumni dan sekarang menjadi guru.

Akhirnya, kini aku menjadi bagian dari SMP Negeri 1 Tambakdahan seutuhnya.

Tags:

Related Posts

4 Responses

  1. author

    Dina NJanuary 10, 2019 at 12:26Reply

    Really enjoy it. Keep writing, Pak toto

    • Toto Wijaksana Author

      Toto WijaksanaJanuary 10, 2019 at 15:33Reply

      terimakasih bu, semoga bisa tetap istiqomah menulis sambil belajar.

  2. author

    Bu EKJanuary 10, 2019 at 13:46Reply

    Eta fotona sesuatu pisan, To.

    • Toto Wijaksana Author

      Toto WijaksanaJanuary 10, 2019 at 15:33Reply

      foto kenangan ya bu, mukanya maih unyu2 kumaha kitu? haaaha

Leave a Reply