Reformasi Pendidikan Ala KH. Wahid Hasyim

Artikel, Tokoh 0
Biografi  KH. Wahid Hasyim
KH. Wahid Hasyim merupakan anak kelima dan anak laki-laki ‎pertama dari 10 bersaudara, dilahirkan pada hari jum’at, 1 Juni ‎‎1914 di Tebuireng, Jombang, Jawa Timur. Nama aslinya Abdul ‎Wahid. Akan tetapi, ketika menginjak dewasa ia lebih suka menulis ‎namanya dengan cara menambahkan nama ayahnya di belakang ‎namanya sendiri sehingga menjadi A. Wahid Hasyim. Kemudian ia lebih dikenal dengan Wahid Hasyim.‎

Sebagai anak seorang kyai terkenal, Wahid Hasyim tumbuh dan ‎berkembang dalam lingkungan pesantren yang sarat dengan nilai-‎nilai keagamaan. Pendidikan dasarnya dilalui di lingkungan ‎rumahnya. Pagi hari ia belajar di madrasah yang ada di lingkungan ‎pesantren orang tuanya, sementara malam hari belajar langsung ‎dengan ayahnya. Kegiatan ini dijalaninya sampai usia 12 tahun ‎.‎

Selain mendapat bimbingan langsung dari ayahnya, KH. Wahid ‎Hasyim juga belajar di bangku Madrasah Salafiyah di Pesantren ‎Tebuireng. Pada usia 12 tahun, setamat dari Madrasah, ia sudah ‎membantu ayahnya mengajar adik-adik dan anak-anak seusianya. ‎Sebagai anak tokoh, KH. Wahid Hasyim tidak pernah mengenyam ‎pendidikan di bangku sekolah Pemerintah Hindia Belanda. Selain ‎ketidakminatannya, melainkan juga keengganannya untuk mengabdi ‎pada Belanda yang telah membakar pesantren ayahnya pada tahun 1913 serta membodohkan masyarakat Indonesia melalui kebijakan ‎politisnya.‎

Selain belajar di Madrasah, ia juga banyak mempelajari sendiri ‎kitab-kitab dan buku berbahasa Arab. KH. Wahid Hasyim ‎mendalami syair-syair berbahasa Arab dan hafal di luar kepala, ‎selain menguasai maknanya dengan baik. Pada usia 13 tahun ia ‎dikirim ke Pondok Siwalan, Panji, sebuah pesantren tua di Sidoarjo. ‎Sepulang dari Lirboyo, KH.  Wahid Hasyim tidak meneruskan belajarnya di pesantren lain, tetapi memilih tinggal di rumah. Oleh ‎ayahnya, pilihan tinggal di rumah dibiarkan saja, karena  KH. Wahid ‎Hasyim bisa menentukan sendiri bagaimana harus belajar. Benar ‎juga, selama berada di rumah semangat belajarnya tidak pernah ‎padam, terutama belajar secara otodidak. 


Kegemaran dalam dunia ‎pendidikan, pada usia 10 tahun, beliau sudah berkelana dari satu ‎pesantren ke pesantren lainnya. Karena ghirah intelektualnya, pada ‎usia 17 tahun beliau bertolak ke mekkah‎. Pada dasarnya, cerminan ‎kecintaan pada dunia pendidikan tidak lepas peran lingkungan pesantren yang di asuh ayahnya, karena pesantren tebuireng ‎menjadi basis perintis pendidikan Islam di Jawa Timur. Sehingga ‎kecintaan KH. Wahid Hasyim dalam memproduksi pola pikir yang ‎kontruktif mulai di tampakan disaat awal mula kecintaan beliau ‎pada pendidikan, sampai beliau pulang dari mekah dengan mencoba ‎menkolaborasikan kurikulum pesantren dengan kurikulum ‎pendidikan umum dengan mendirikan Madrasah Salafiyah yang dipimpin oleh KH. Ilyas dengan mengkolabosarikan kurikulum ‎umum. Diantaranya:‎
  1. Membaca menulis huruf latin
  2. Bahasa Indonesia
  3. Mempelajari ilmu bintang dan falak
  4. Ilmu bumi dan sejarah Indonesia.‎ ‎ ‎

Sehingga kurikulum yang ditampilkan dalam sistem pendidikan di ‎Pesantren Tebuireng pada saat itu menggunakan sistem kurikulum ‎zaman romawi yang dapat menguatkan aspek-aspek fitrah ‎keagamaan kemampuan aktual yang mengarah pada suatu ‎kebaikan.‎ ‎ Sedangkan Karya-karya tulisannya antara lain: ‎
  1. Nabi Muhammad dan persaudaraan Manusia
  2. Berimanlah dengan Sungguh dan Ingatlah Kesabaran Tuhan
  3. Kebangkitan Dunia Islam
  4. Kedudukan Ulama dalam Masyarakat Islam di Indonesia, Islam ‎antara Materialisme dan Mistik ‎.‎

Peran KH. Wahid Hasyim dalam Pendidikan
Sebagaimana dijelaskan di atas, bahwa KH. Wahid Hasyim selain ‎sebagai salah satu ulama dan putra ulama al-maghfurlah hadratus ‎syaikh KH. Hasyim Asy’ari serta kecintaanya dalam dunia ‎pendidikan, beliau juga dikenal sebagai seorang tradisionalis ‎Nahdlatul Ulama yang  reformis, populis, modernis serta progresif ‎dalam dunia  pendidikan di Indonesia.  Kecintaan Beliau juga tidak ‎sekedar pada  ilmu yang bersifat personal, melainkan aplikatifnya ‎disetiap otoritas-otoritasnya. Sebelum, maupun saat menjabat ‎menjadi menteri agama. Sehingga melalui otoritasnya, mampu ‎mengangkat pendidikan pesantren yang selalu dianaktirikan dari ‎pendidikan umum, sehingga kesan dikotomi-dualisme pendidikan ‎sesaat mulai di patahkan melalui kebijakan-kebijakanya.‎

Otoritas Sebelum Menjadi Kamenag RI
Sebelum menjabat menjadi kepala Menteri Agama RI, KH. Wahid ‎Hasyim terkenal dengan kharismatiknya dalam keilmuannya. Di ‎antara kebijakannya:‎

  1. KH Wahid Hasyim selalu mengusulkan dan berusaha merevisi kurikulum Pesantren Tebuireng, yang pada saat itu masih dipimpin ‎ayahnya. Dalam merevisi dengan memadukan serta mengkolaborasikanya, bukan semata memudarkan melainkan melengkapi suatu keilmuan antara ilmu umum dan ilmu agama sehingga KH. Wahid Hasyim mempunyai harapan, keilmuan ini mampu di komplementerkan, sehingga khasanah keislaman mampu ‎di terapkan dalam ranah aplikatif dalam menjalankan dan ‎mengkomando ilmu-ilmu umum.‎
  2. Selain mengusulkan sebuah reformasi kurikulum, KH. Wahid Hasyim juga mengusulkan perlunya pengajaran yang ada di pesantren tidak sebatas pada sistem klasikal. Namun perlunya dekontruksi-rekontruksi ulang untuk meningkatkan mutu kualitas ‎hasil dari pesantren menggunakan sistematika pelajaran secara ‎tutorial.‎
  3. Pada tahun 1936, Kiai Wahid mendirikan Ikatan Pelajar Islam. Ia ‎juga mendirikan taman bacaan (Perpustakaan Tebuireng) yang ‎menyediakan lebih dari seribu judul buku. Perpustakaan ini juga ‎berlangganan majalah seperti Panji Islam, Dewan Islam, Berita ‎Nahdlatul Ulama, Adil, Nurul Iman, Penyebar Semangat, Panji ‎Pustaka, Pujangga Baru, dan lain sebagainya. Ini merupakan ‎terobosan pertama yang dilakukan pesantren manapun di ‎Indonesia.‎
  4. Saat pemimpin Masyumi, Ia merintis pembentukan Barisan Hizbullah yang aktif membantu perjuangan umat Islam mewujudkan ‎kemerdekaan. Tahun 1944, ikut mendirikan Sekolah Tinggi Islam ‎‎(UIN) di Jakarta yang dipimpin oleh KH. Wahid Hasyim.‎ 
  5. Pada  tahun 1935, KH. Wahid Hasyim mendirikan Madrasah Nidzamiyah, dimana 70 persen kurikulum berisi materi pelajaran umum,  dan akhirnya di ridhoi oleh sang ayah.‎

Otoritas Saat Menjabat Menteri Agama RI
Kebijakan KH. Wahid Hasyim dalam memajukan dan ‎mengintegrasikan pendidikan di Indoensia sebelum menjadi ‎Menteri Agama, masih banyak sekali yang perlu kita renungkan. Kita ‎analisis, untuk kembali mengeavaluasi sebuah kurikulum antara ‎pendidikan Islam dan pendidikan umum. Selain otoritasnya yang ‎begitu brilian, otoritas yuridis pada saat menjabat Menteri Agama ‎juga membuat pengaruh signifikansi sekali pada pendidikan yang ‎ada di Indonesia. Diantaranya:‎
  1. Mengeluarkan Peraturan Pemerintah tertanggal 20 Januari 1950, yang mewajibkan pendidikan dan pengajaran agama di lingkungan ‎sekolah umum, baik negeri maupun swasta.‎
  2. Mendirikan Sekolah Guru dan Hakim Agama di Malang, Banda Aceh, ‎Bandung, Bukittinggi dan Yogyakarta.‎
  3. Mendirikan Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) di Tanjung Pinang, Banda Aceh, Padang, Jakarta, Banjarmasin, Tanjungkarang, ‎Bandung, Pamekasan dan Salatiga.‎
  4. Pada  tahun 1950 memutuskan pendirian Perguruan Tinggi Agama ‎Islam Negeri (PTAIN) yang kini menjadi IAIN/UIN/STAIN, serta ‎mendirikan wadah Panitia Haji Indonesia (PHI). Kyai Wahid juga ‎memberikan ide kepada Presiden Soekarno untuk mendirikan ‎masjid Istiqlal sebagai masjid negara.‎

Statmen otoritas di atas baru sebatas yang nampak dalam bentuk formalitasnya. Kebijakan yang sudah bertahun-tahun mengendap ‎serta mengakar bumi pertiwi mulai hilang. Sehingga perlunya ‎dikembalikam sebuah tatanan formulasi kehidupan dalam ‎cerminann pendidikan yang satu padu dalam satu sistem yang ‎seimbang. Jika kita tarik garis besarnya, deskriptif analisis kebijakan ‎dari KH. Wahid Hasyim mengacu kepada dua garis besarnya, di ‎antaranya planning melalui kurikulum dan proses melalui metode. Kebijakan tidak berangkat dari kegelisahan, atas sebuah realitas ‎untuk lebih dikomplementarkan maupun substitusikan melalui ‎otoritas yang lebih tepat dan bijaksana.‎

Referensi:

Lathiful Khuluq: Fajar Kebangkitan Ulama Biografi KH. Hasyim Asy’ari
Mustofa dan Abdulloh Aly: Sejarah Pendidikan Islam di Indonesia
Rahmat Raharjo: Inovasi Kurikulum Pendidikan Agama Islam
Yanto Bashri dan Retno Suffatni: Sejarah Tokoh Bangsa
author

Author: 

Prinsip yang selalu saya pegang, setiap orang mempunyai celah dan peluang untuk mengorbitkan dirinya sendiri, jika orbit yang kita telusuri jauh dari jati diri, maka mencari celah adalah jalan terbaik untuk mengorbitkan diri sendiri tanpa harus ikut orbit orang lain. Tak mesti menyaingi kecerdasan orang lain untuk bisa sejajar dengan orang-orang cerdas, cukup menjadikan kekurangan sebagai cerminan dan keunikan sebagai kelebihan yang tak dimiliki orang lain adalah sebuah kecerdasan yang tak semua orang punya.

Related Posts

Leave a Reply