Reorientasi Media Audio Visual dalam Pendidikan Keluarga

Opini 0

oleh: Nita Puji Astuti

Dewasa ini, keberadaan televisi di setiap rumah seperti salah satu kebutuhan premier, bukan lagi kebutuhan tersier. Dalam pemenuhannya, hampir semua orang selalu berupaya keras untuk menempatkan televisi di salah satu sudut bagian rumah mereka. Bahkan, tak jarang dalam satu rumah bisa memiliki 2 atau 3 televisi.

Alasan klasik keberadaan sebuah televisi adalah sebagai salah satu sumber informasi yang up to date sekaligus sarana hiburan keluarga. Hanya saja, masih banyak orangtua yang belum sadar tentang dampak negatif televisi bagi proses tumbuh kembang dan perilaku seorang anak.

Tayangan televisi saat ini bisa dipastikan lebih banyak point mudaratnya dibandingkan dengan point manfaatnya. Hal tersebut bisa dilihat dari banyaknya pengguna televisi yang mengkritik berbagai macam tanyangan-tayangan yang secara tidak langsung mengajarkan anak untuk bertindak mem-bully. Tayangan tersebut memang dikemas dalam bentuk lelucon yang membuat para pemirsa termasuk anak-anak tertawa.

Dalam buku yang berjudul “Anak Saleh Lahir dari Orang tua Saleh”, seorang penulis sekaligus fasilitator pendidikan orangtua di Indonesia, Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari atau yang biasa disapa Abah Ihsan sendiri menulis satu bab khusus yang berkenaan dengan upaya yang bisa dilakukan orang tua agar anak tidak menyukai televisi.

Abah Ihsan sendiri adalah salah seorang orangtua yang sangat merasakan dampak negatif dari tayangan televisi sehingga beliau memiliki dua option berkenaan dengan keberadaan televisi. Pertama, para orangtua bersikap tegas dengan benar-benar meniadakan televisi di rumah. Kedua, menyediakan televisi namun dengan teknik pengendalian yang harus dilakukan secara istiqomah atau konsisten oleh orangtua.

Apabila option pertama dirasa sulit untuk dilakukan, maka option kedua bisa dilakukan dengan beberapa cara seperti berikut :

1. Membuat anak senang membaca buku. Bagaimana caranya agar anak senang membaca buku? Diawali dari kesungguhan orangtua tentunya. Orangtua adalah agen utama yang akan menularkan virus gemar membaca buku pada anak. Hal tersebut bisa dimulai dengan membiasakan anak berinteraksi secara langsung dengan buku sejak bayi. Misalnya, seorang ibu terbiasa membaca buku atau yang lebih dahsyat banyak membaca Al-Quran ketika hamil. Ketika anak menginjak batita atau balita bisa dikenalkan dengan buku bergambar yang penuh warna yang akan merangsang jutaan sel syarafnya bekerja. Selain itu, membacakan buku cerita sebelum anak tidur selama 15 menit InsyaAllah akan membuat anak semakin cinta dengan buku. Tentunya semuanya harus dilakukan secara konsisten oleh orangtua.

2. Membuat jadwal menonton televisi. Dalam hal ini, Abah Ihsan menegaskan bahwa orangtua sebaiknya memberikan waktu anak menonton televisi maksimal dua jam saja. Paling tidak dalam rentang dua jam anak-anak dapat menonton dua jenis tayangan yang mereka sukai. Namun, orangtua harus memastikan dulu tayangan tersebut memang benar-benar aman untuk anak. Orangtua juga harus tegas dan istiqomah dengan aturan atau ketentuan jadwal menonton televisi sekalipun anak menawar, menangis, merengek, dll. Selain itu, Abah Ihsan juga mengingatkan bahwa jangan sampai durasi anak menonton televisi melebihi durasi waktu orangtua bersama anak. Karena pada dasarnya, orangtua adalah hal ternyaman yang dibutuhkan oleh seorang anak.

3. Menempatkan televisi di tempat yang tidak nyaman. Misalnya di ruangan yang sempit, di bawah tangga, dekat kamar mandi atau dapur. Selain itu, pastikan keberadaan televisi tidak dilengkapi dengan fasilitas nyaman seperti kipas angin, sofa empuk, karpet atau kasur empuk. Fasilitas-fasilitas itu jelas akan membuat anak semakin betah di depan televisi.

4. Membantu anak membuat kegiatan mandiri saat orangtua sibuk. Well, ini bagian yang paling mengasyikan rasanya buat anak-anak. Coba membuat anak berkreasi dan berfikir kreatif, misalnya dengan aktifitas mewarnai, menggunting, menempel, memainkan beras atau pasir, atau menyusun bangunan dari benda yang ada di sekitar rumah. Ada juga yang lebih seru, imitating action yang mana anak beraksi/menirukan/aksi mirip, misalnya ibu memasak, anak masak mainan, ayah mencuci motor, anak mencuci sepedah. Masih banyak ide-ide kreatif lain yang melibatkan anak agar tak lagi antusias dengan televisi. Kuncinya, orangtua harus kreatif.

5. Menyediakan waktu bersama anak. Bagi saya pribadi ini adalah point paling penting. Why? Percayalah bahwa setiap anak akan dan selalu ingin bersama dengan orangtuanya. Abah Ihsan memberi gambaran bahwa bersama anak itu artinya, orang tua tidak bertiga atau berempat dengan gadget, koran, masakan, cucian, dll. Bersama anak artinya hanya ada anak dan orangtua. Orangtua harus terlibat aktif dalam menyelami perasaan anaknya. Ada masanya anak ingin didengarkan, dimanjakan dengan sentuhan atau ditentramkan dengan pelukan. Sepenat apapun orangtua, sebaiknya tidak mengeluh saat bersama anak apalagi keluhan tersebut dianggap bersumber dari tingkah laku anak. Orangtua harus selalu ingat bahwa anak adalah anugerah. Bagi Abah Ihsan sendiri, beliau terbiasa meluangkan waktu satu jam penuh dalam sehari untuk membersamai anaknya. Beliau juga menyarankan, bagi ayah dan ibu yang keduanya bekerja harus meluangkan waktu 2-4 jam sehari untuk dihabiskan bersama anaknya. Karena nyatanya inilah yang hilang dari sebagian anak zaman sekarang. Banyak anak yang menjadi “yatim piatu” saat orangtuanya masih lengkap. Menyakitkan bukan?

So, upaya-upaya di atas sepertinya memang harus dilakukan dengan niat yang sungguh-sungguh serta keistiqomahan dari orangtua. InsyaAllah menjauhkan anak dari televisi akan memberikan banyak dampak positif terhadap tumbuh kembang dan perilaku anak-anak.

Tags:

Related Posts

Leave a Reply