Brand Activation: Strategi Komunikasi Agar Reputasi Perguruan Tinggi Menjulang

Opini 0

Oleh: Afred Suci (Dosen Fakultas Ekonomi – Universitas Lancang Kuning)

 

Meskipun cukup memprihatinkan apa yang dinyatakan oleh pemerintah baru-baru ini, bahwa rasio masyarakat terdidik di Indonesia baru mencapai 27%, namun dari sisi pemasaran sesungguhnya ironi tersebut menyisakan asa bagi industri pendidikan tinggi karena demand masyarakat melanjutkan pendidikan tinggi menunjukkan tren meningkat setiap tahunnya.

 

Faktanya, pendidikan tinggi saat ini telah bertransformasi menjadi industri pendidikan yang menggiurkan banyak pemilik modal. Keterbatasan kuota kursi di Perguruan Tinggi Negeri (PTN), memberikan peluang sangat besar bagi institusi swasta untuk merebut pangsa pasar yang masih sangat menjanjikan. Bisa dikatakan bahwa industri pendidikan di era ini masuk ke dalam kategori pasar persaingan sempurna yang dicirikan dengan banyaknya pelaku dan tingginya persaingan didalam pasar.

 

Terlepas dari kontroversi layak atau tak layaknya kualitas Perguruan Tinggi (PT) didalamnya, tak bisa dipungkiri bahwa persaingan antar Perguruan Tinggi Swasta (PTS) sudah sedemikian hot-nya, sehingga konsumen sedemikian pula bebasnya memilih institusi paling seksi yang ingin dimasukinya. Layaknya anak dara, tentu PT harus bersolek untuk memikat calon-calon peminangnya agar tak lepas ke anak dara lain yang berkerubung dalam kampung yang sama. Jualan kualitas PT saja tentu tak cukup bila itu tak terkomunikasikan keluar.

 

Maka disinilah peran komunikasi pemasaran perlu dilakukan. Serupa tapi tak sama. Analogi ini untuk menyatakan bahwa komunikasi iklan berbeda dengan aktivasi merek (brand activation). Iklan merupakan salah satu bagian kecil dari aktivasi merek, sebaliknya aktivasi merek bukan hanya iklan. Bahkan bisa dikatakan bahwa aktivasi merek merupakan perkembangan teori mutakhir dari konsep-konsep tradisional tentang komunikasi pemasaran melalui media iklan.

 

Definisi sederhana brand activation adalah kegiatan mengkombinasikan seluruh metode komunikasi pemasaran agar tercipta interaksi secara langsung antara merek dengan konsumen. Di dunia marketing dikenal jargon: Tak ada kecap nomor 2 – artinya semua pemasar akan mengklaim dirinya adalah yang terbaik. Iklan memungkinkan ini, karena sifatnya komunikasi satu arah. Anekdotnya, “Sudahlah percaya saja iklannya kenapa sih?” karena audiens tak memiliki ruang bersuara.

 

Strategi aktivasi merek merupakan pembuktian bahwa “iklan kecap” itu benar atau sebaliknya, melalui pengalaman merek (brand experiental). Kegiatan-kegiatan brand activation memungkinkan terjadinya interaksi antara konsumen dengan merek sehingga terbentuk pengalaman nyata tanpa edit sana-sini layaknya iklan. Wajah asli tanpa efek 360!

 

#Aktivasi Merek Perguruan Tinggi Adalah Tentang Bukti Bukan Janji

 

Pengalaman pada merek perguruan tinggi terjadi ketika stakeholders (calon mahasiswa, mahasiswa, keluarga siswa, masyarakat) terlibat didalam kegiatan-kegiatan PT, saling membicarakan persepsinya tentang PT dan berusaha mencari informasi atau menunggu event-event yang dilakukan PT – bukan sekedar membaca atau mendengar “iklan kecap No. 1”.

 

Pengalaman merek positif tercipta ketika PT terbukti mampu menunjukkan kecocokan janji-janji kampanye pemasaran satu arahnya. Ketika PT mengklaim sebagai kampus riset, maka dalam program aktivasi mereknya, stakeholder akan langsung bisa melihat dan merasakan suasana akademik bernuansa ilmiah dari civitas akademikanya, melihat berapa banyak publikasi ilmiah yang ada, mengikuti serangkaian konferensi dan workshop ilmiah didalamnya dan sebagainya. Atau ketika kampus dengan gagah berani mencap diri sebagai world class university, maka stakeholder seharusnya bisa menyaksikan sendiri eksistensi kelas internasional dan jumlah mahasiswa asing serta kurikulum standar internasional didalamnya.

 

Begitu juga jika kampus menisbatkan dirinya sebagai kampus enterpreneur, maka semestinya stakeholders bisa melihat ada program-program inkubasi bisnis di kampus, staf pengajar dan pembimbing inkubator langsung dari praktisi bisnis, ketersediaan akses permodalan bagi start up bisnis untuk mahasiswa, kurikulum yang mengintegrasikan nilai-nilai enterpreneurship didalam setiap mata kuliahnya dan sebagainya.

 

#Mengaktivasi Merek Perguruan Tinggi

 

Brand activation mengharuskan terjadinya interaksi dua arah antara PT dengan stakeholders. Untuk memikat dan menjaring mahasiswa baru, PT bisa melakukan campus visit dimana stakeholders bisa melihat dan merasakan langsung sarana dan prasarana kampus. Jika target pasar PT adalah siswa daerah, maka tim marketing PT bisa jemput bola ke sekolah-sekolah di daerah yang potensial menjadi “pemasok” mahasiswa baru.

 

Tentunya tidak sekedar cuap-cuap “jualan kecap” dan membagi-bagi brosur, tetapi melakukan kegiatan-kegiatan atraktif yang bisa menegaskan citra merek PT sebagai pilihan tepat bagi mereka yang ingin melanjutkan pendidikan tinggi – seperti menggelar dan mensponsori kontes-kontes akademik, olahraga, seni budaya, dan lain sebagainya sehingga tercipta positioning di benak pelajar bahwa PT itu ‘asik dan gue banget!’ Dosen-dosen pun semestinya bisa diberdayakan sebagai pemasar campus image dan campus identity bagi PT.

 

Aktivitas dosen diluar kampus adalah etalase bagi masyarakat untuk menilai kualitas PT darimana dosen itu berasal. Dukungan moril dan materil serta ruang kebebasan perlu diperluas bagi para dosen yang dalam aktivitas diluar kampus selalu memajang didadanya – dengan rasa bangga – nama institusinya. Terlebih jika aktivitas-aktivitas itu berbuah prestasi membanggakan, maka selayaknya PT memberikan apresiasi dan reward serta gencar mempublikasikan prestasi civitas akademikanya secara luas, sehingga bisa memotivasi rekan-rekan lain untuk berprestasi yang sama atau bahkan berkompetisi untuk lebih unggul.

 

Tentu saja, kampanye prestasi ini akan memunculkan trust di masyarakat bahwa PT tersebut memang pantas dibanggakan. Linkage atau kerjasama dengan industri kerja dan industri sektor riil dalam bentuk pameran-pameran lowongan kerja di kampus, informasi dan peluang-peluang magang, kerjasama dalam bentuk rekanan bisnis antar unit-unit bisnis kampus dengan perusahaan, dan lain sebagainya juga merupakan alternatif brand activation yang progresif untuk dilakukan perguruan tinggi.

 

Jika hal-hal itu bisa terwujud, maka komunikasi viral positif akan otomatis terjadi dan dilakukan oleh stakeholders tanpa PT harus mengorek-ngorek kas di brankas untuk membayar mereka, karena secara sukarela mereka akan menjadi ambassador (duta) dan evangelist (pembela) bagi reputasi PT.

 

Ini tidak saja akan membanggakan civitas akademika didalam kampus, namun dari aspek pemasaran akan mampu menarik dan menyaring banyak mahasiswa baru yang dari sisi passing grade akan lebih berkualitas.

Tags:

Related Posts

Leave a Reply