Transformasi Universitas Islam

Opini 0
Kualitas STAIN dan IAIN sebagai pusat kajian dan pengembangan ilmu keagamaan dalam ‎masyarakat muslim mendapat tantangan di era kontemporer. Semakin majunya sains dan ‎teknologi di abad modern ini, menjadikan agama sarat dengan berbagai kritik, bahkan tidak ‎jarang nilai-nilai agama akan sangat mudah ditinggalkan. Tanpa adanya pembaruan metodologis ‎dalam penyiaran dan kajian di bidang agama, boleh jadi akan sangat mungkin jati diri STAIN ‎dan IAIN sebagai cagar agama, pencetak ulama, dan cendikiawan muslim akan semakin tidak ‎kelihatan. Artinya agama dengan nilai-nilainya akan sangat mudah ditinggalkan oleh masyarakat sejalan dengan ketidakmampuan STAIN dan IAIN menjawab tantangan global.‎
IAIN telalu santai di zona nyaman. Sehingga terlalu fokus berkutik di kajian Islam, tanpa ‎sedikit pun melirik dunia lain selain kajian keislaman. Kita ketahui bahwa Al-Kindi, Ibnu Rusyd ‎dan Ibnu Sina adalah tokoh muslim yang mendobrak bidang kedokteran, astronomi, teknik ‎mesin, dan tidak sedikit pun muslim meragukan keulamaannya. IAIN terlalu terbatas untuk ‎melalukan apa yang telah dilakukan tokoh tadi dalam pengembangan ilmu sains dan teknologi.‎
Rabu (21/12). Menteri Agama mengumumkan transformasi IAIN ke UIN pada peresmian ‎IAIN Batusangkar, Sumatera Barat. Adapun keenam IAIN yang akan beralih status UIN ialah: ‎
  1. UIN Imam Bonjol Padang; 
  2. UIN Antasari Banjarmasin; 
  3. UIN Sultan Maulana Hasanuddin ‎Banten; 
  4. UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi; 
  5. UIN Mataram; dan 
  6. UIN Raden Intan Lampung.‎
“Saya berharap, Rancangan Perpres tentang perubahan status ini bisa segera diselesaikan ‎sehingga proses transformasi keenam IAIN menjadi UIN ini bisa dilakukan di tahun 2017,” ujar ‎Menag. ‎
Dalam rangka menghadirkan pendidikan tinggi keagamaan Islam yang berkualitas, ‎Kementerian Agama terus melakukan pembenahan kelembagaan. Salah satunya adalah ‎melakukan penguatan, baik akademik maupun non akademik. 
“Sampai saat ini, Kemenag ‎membina 11 UIN, 25 IAIN, dan 20 STAIN,” tandas Menag. (kemenag)‎
Sesungguhnya perdebatan dan proses transformasi kelembagaan UIN yang diusung oleh ‎banyak tokoh IAIN itu tidak terjadi tiba-tiba. Sejak Harun Nasution menjabat Rektor IAIN ‎Jakarta, kemudian dilanjutkan oleh Quraish Shihab, ide transformasi dan perubahan IAIN ‎menjadi UIN itu sudah ada. Inisiatif ini kemudian mendapat mementum kuat di berbagai PTAI, ‎terutama IAIN Jakarta, IAIN Yogyakarta, dan STAIN Malang yang secara sendiri-sendiri maupun bersama-sama bersatu menggolkan transformasi ke UIN. Tokoh dan ‘pelaku’ di balik ide ‎besar itu orang semacam Prof. Azyumardi Azra, Prof. Amin Abdullah, dan Prof. Imam ‎Suprayogo, masing-masing mewakili lembaganya yang kemudian merealisasikan ide itu menjadi ‎kenyataan. ‎
Kabarnya mereka mengadakan serangkaian pertemuan intensif untuk memperoleh ‎dukungan dari berbagai kementerian dan lembaga seperti Kementerian Pendidikan, Bappenas, ‎DPR/MPR, tokoh nasional hingga Presiden. Jika kemudian lahir UIN adalah hasil perjuangan ‎banyak orang, banyak pemikiran, dan banyak tenaga yang dicurahkan. (diktis)‎
Mastuki HS menyebut perubahan kelembagaan IAIN/STAIN menjadi UIN itu sebagai ‎lompatan quantum dan mewakili reformasi pemikiran Islam Indonesia. Ia sebagai kelanjutan dari ‎campuran antara keinginan, cita-cita, struggle, kecemasan, kegelisahan, dan optimisme dari ‎tokoh-tokoh Islam (mewakili masyarakat Muslim dan cendekiawan Muslim) yang menginginkan ‎lahirnya pendidikan tinggi Islam yang berwibawa di Indonesia. Makna universitas menunjuk ‎dengan jelas adanya keinginan bahwa Islam dan pemikiran Islam tidak terbonsai hanya dan pada ‎kajian Islam yang sempit (seperti di IAIN), tetapi meliputi semua bidang keilmuan. Dengan ‎begitu Universitas Islam yang akan dilahirkan adalah lembaga yang mengkaji semua ilmu itu ‎secara menyatu dan terintegrasi.‎
Banyak tokoh Islam yang menentang peralihan status IAIN ke UIN itu karena dikhawatirkan ‎akan mengurangi (atau bahkan memerosotkan) kajian Islam yang sudah lama tertanam di IAIN. ‎Memang ini menjadi kekhawatiran, tatapi bagaimana bisa menjawab tantangan global jika ‎pemikiran seperti itu terus menghantui. Keahlian berbagai bidang harus kembali diraih oleh ‎muslim dengan Universitas Islam sebagai corongnya. Tentu kita tidak ingin dicap sebagai muslim ‎monoton yang terus menerus berkutat dengan kajian keislaman tanpa menoleh kearah kajian ‎lainnya. Justru ini akan menjadikan wajah Islam sebagai wajah yang multidisipliner. Ahli ilmu ‎agama tetapi juga ahli bidang lain.‎
Rate this article!
author

Author: 

Prinsip yang selalu saya pegang, setiap orang mempunyai celah dan peluang untuk mengorbitkan dirinya sendiri, jika orbit yang kita telusuri jauh dari jati diri, maka mencari celah adalah jalan terbaik untuk mengorbitkan diri sendiri tanpa harus ikut orbit orang lain. Tak mesti menyaingi kecerdasan orang lain untuk bisa sejajar dengan orang-orang cerdas, cukup menjadikan kekurangan sebagai cerminan dan keunikan sebagai kelebihan yang tak dimiliki orang lain adalah sebuah kecerdasan yang tak semua orang punya.

Related Posts

Leave a Reply